Karya Munir
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1
Di sebuah desa kecil yang jauh dari kehidupan kota, tinggal beberapa kepala keluarga, sebagian besar mata pencarian mereka adalah sebagai petani, mereka hidup damai, mereka tidak mengenal kehidupan modern, mereka hidup hanya bergantung dengan alam. Di desa tersebut tinggal seorang kakek tua yang usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun, warga desa di sana menyebut kakek itu dengan sebutan mbah jenggot, mereka memanggil dengan nama mbah jenggot karena kakek tersebut mempunyai jenggot yang sangat banyak. Kakek tua itu hidup sendiri di sebuah gubuk kecil, istrinya sudah meninggal lima belas tahun yang lalu karena sakit, sehari harinya kakek itu mengajari mengaji anak - anak di desa itu, kakek itu mengajari mengaji anak - anak dengan ikhlas, tanpa diberi upah. Kakek itu mengajari anak - anak dengan ikhlas karena warga desa tersebut tidak banyak yang biasa mengaji,k akek itu berharap agar anak - anak ini nanti bisa memperbaiki iman warga desanya.
Pada suatu ketika desa mereka didatangi sekelompok orang dari kota, mereka disambut dengan hangat oleh warga desa, karena didesa itu sangat jarang sekali di datangi orang dari kota. Mereka datang kedesa itu dengan maksud yang tidak baik, mereka bermaksud mengambil kekayaan alam yang ada di desa itu. Sebenarnya didesa itu banyak sekali tambang emas, tetapi warga desa di situ tidak mengetahuinya, kalaupun tahu mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya. Karena kedatangan orang - orang dari kota tersebut warga desa menjadi terpengaruh untuk menambang emas sebanyak - banyaknya tanpa menghiraukan keadaan alam, warga desapun menjadi kaya, mereka bisa membeli segala - galanya apa yang mereka inginkan.
Mendengar warga desanya mulai gila dengan kekayaan, mbah jenggot menjadi sedih, setiap malam mbah jenggot selalu berdo’a kepada ALLAH SWT, agar warga desanya di ampuni kesalahannya dan dijauhkan dari bencana. Lama kelamaan mbah jenggot menjadi sangat marah kepada warga desa, karena mereka masih terus saja menambang emas, padahal kegiatan penambangan mereka itu sangat merusak lingkungan. Kemarahan mbah jenggot dilampiaskan dengan jalan mbah jenggot tidak mau lagi mengajarkan anak – anak mengaji, dan juga sudah tidak mau lagi bergaul lagi dengan warga desa.
Melihat mbah jenggot sudah tidak mau lagi mengajarkan anak - anak mengaji, dan tidak mau lagi bergaul dengan warga desa, warga desa mulai bingung, mereka berfikir, apa kesalahan mereka sehingga mbah jenggot tidak mau lagi bergaul dengan mereka lagi. Mereka menyuruh salah satu warganya untuk mengintip kehidupan mbah jenggot. Orang yang di suruh itu melihat kehidupan mbah jenggot yang sangat memprihatinkan dan orang tersebut langsung memberikan laporannya itu kepada warga desa yang lain, sehingga mereka berkesimpulan bahwa mbah jenggot bersikap seperti karena kurang perhatinnya para warga, di saat para warga desa sudah menjadi kaya raya, mbah jenggot masih saja hidup dalam kemiskinan. Mereka berinisiatif untuk membangunkan tempat untuk mengaji yang nyaman, di maksudkan agar mbah jenggot semangat lagi untuk mengajarkan anak - anak mengaji dan juga sebuah runah yang mewah untuk mbah jenggot.
Meskipun mbah jenggot sudah di buatkan tempat untuk megajarkan anak-anak mengaji dan juga sebuah rumah yang mewah, tetap saja mbah jenggot tidak mau mengajarkan anak-anak mengaji, mbah jenggot juga tidak mau menempati rumah yang di buat warga desa untuknya. Warga semakin bingung dengan sikap mbah jenggot, karena warga desa terlanjur naik darah, mereka pergi kerumah mbah jenggot untuk melabraknya. Disaat sudah sampai didepan rumah mbah jenggot mereka berteriak-teriak memanggil nama mbah jenggot.
“mbah jenggot……. mbah jenggot………… keluar………… keluar…………” meskipun sudah dipanggil berkali kali tetap saja mbah jenggot tidak mau keluar rumah. Karena suasana semakin memanas, ada salah satu warga desa yang mengusulkan untuk membakar rumah mbah jenggot, warga yang lain menjadi terpengaruh dan berniat untuk membakar rumah mbah jenggot.
Wargapun mengambil minyak tanah dan disiramkan ke rumah mbah jenggot, ketika warga mulai menyulutkan api, mbah jenggot keluar dari rumah rumahnya, mereka dengan emosi bertanya kepada mbah jenggot. Kakek tua……..mengapa kamu sudah tidak mau lagi mengajar ngaji anak-anak, padahal sudah kami buatkan sebuah musholla yang bagus, supaya kamu lebih semangat lagi mengajar, dan kami sudah membutkan sebuah rumah yang besar untuk kamu, apa salah kita sehingga ngkau tidak mau mengajarkan anak-anak mengaji. Dengan meneteskan air mata mbah jenggot menjawabnya “aku tidak mau memakan harta yang haram”. Warga menjawab “harta haram apa yang kamu maksud……”. (Mereka tidak sadar bahwa penambangan yang mereka lakukan adalah ilegal). Mbah jenggot menjawab “kalian sadar apa tidak, bahwa kegiatan penambangan yang kalian lakukan itu sangat merusak alam”. Wargapun terdiam mulai meninggalkan rumah mbah jenggot.
Keesokan harinya tempat penambangan mereka terjadi penggerebekan, dengan jumlah polisi lebih dari satu truk. Ditempat penambangan terjadi baku hantam antara polisi dan warga, ada beberapa warga yang lari pada saat terjadi terjadi penggerebekan dengan sangat terpaksa polisi mengeluarkan senjatanya dan menembaki warga yang lari. Penggerebekan itu polisi menangkap lebih dari 63 warga, dan 5 orang yang meninggal dunia akibat lari dari polisi. Semua kekayaan mereka, termasuk rumah, mobil dan lain sebagainya disita oleh negara, mereka kembali hidup susah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar