Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 11 Januari 2012

Liontin 18 Permata


Karya Tutlia Khurotun A’yuni
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1


Liontin 18 Permata adalah saksi bisu kisah asmara dan kasih sayang ku dan dia. Liontin 18 Permata adalah hadiah terindah darinya. Dengan senyum manis, Dia pakaikan Liontin 18 Permata ini bersamaan dengan terhembusnya angin sejuk di bawah pohon beringin.
            Dalam Liontin ini terukir kenangan-kenangan pahit manisku bersamanya. Kenangan-kenangan itu tertoreh indah dalam setiap sorotan gemerlap permatanya. Liontin 18 Permata merupakan sebuah symbol cinta abadi muda-mudi dalam menggapai cintanya.
            Liontin 18 Permata. Dimana angka satunya menunjukkan tanggal lahir kami dan angka delapan adalah bulan lahir kami. Ya, 1 Agustus merupakan tanggal lahir kami.
            Hari-hari kami tak luput saling mengisi dalam kekurangan / kelebihan masing-masing.
            Liontin 18 Permata. Dimana 18 merupakan tanggal pertama kita saling bertemu. Walau pertemuan itu hanya berdurasi 18 menit, namun sudah sangat membekas dihati. Pukul 08.00 malam masih sangat melekat di ingatanku. Pakaian hitam bermotif kotak-kotak putih sangat serasi dengan sarung hitamnya yang mampu membuat hawa dingin malam menjadi hangat. Sorotan matanya yang tajam dan teduh akan selalu membekas dihatiku. Seakan-akan waktu terhenti seketika bersama terpaan wangi mawar merah malam
            Liontin 18 Permata. Dimana 18 merupakan tanggal jadian kami. 18 September , pukul 08.00 aku menerima ungkapan cintanya dengan hati serasa menembus langit ke tujuh. Setelah 18 bulan kita bersahabat dan saling mengenal satu sama lain, canda tawa dan gurau bersama telah kita lalui. Masih melekat erat dalam ingatanku ketika aku sakit muntaber, dia menelfonku, dia menghiburku. Dia bermain gitar dan menyanyi. Lagunya sungguh membuatku terpingkal-pingkal sampai-sampai infuse yang ada ditanganku copot. Lagu lama yang sangat menghiburku saat itu adalah “ Tak Gendong “ ciptaan Mbah Surip.
            Liontin 18 Permata. 18 Desember merupakan kencan pertama kita. Teriknya matahari siang itu di pusat kota tak menghalangi kami bertemu. Panas dari sang matahari serasa terteduh setelah melihat sorot mata yang ku rindukan. Senyumnya yang manis dan sikapnya yang hangat membuatku betah berlama-lama denganya. Suasananya bagai seriling surga yang menyejukkan hati. Lantunan gitarnya yang merdu dan syahdu adalah hal termanis yang kurasakan. Dan rindangnya pohon beringin menemani kebersamaan kami.
            Liontin 18 Permata. Dua tahun telah berlalu ku lalui bersama arjunaku. Tangis gembira telah kurasakan bersamanya. Namun impian-impian kami harus kami pendam dalam-dalam di angan-angan kami, jatuh bersama dengan jatuhnya deraian air mata di telfon. Tepatnya tanggal 18 Agustus. Malam hari setelah Sholat Tarawih akan menjadi sebuah terpaan besar di dadaku.
“Dek, engkaulah wanita pertama yang dapat mengubah hidupku dari keterpurukan. Engkaulah wanita pertama yang kucintai. Ku harap setelah kau tadak akan kehilangan semangat belajar agar kamu dapat menjadi guru. Maafkan semua kesalahanku dan keluargaku padamu dek !” Suaranya dengan berat, takut dan sedih. Tak terbendung lagi tangisku saat itu. “ Ada apa mas ?” Tanganku dengan tak karuan bingungnya.”Kemarin waktu sahur aku….. aku…. di tuturi bapak Dek. Beliau ngomong bahwa kita… kita… diharamkan menikah.” Ini adalah kata terakhir yang ku dengar selama sadarku masih ada. Ku terkulai lemas tak berdaya. Rasa angan cipta dan rasaku hilang begitu saja. Hitam kelam serasa di hati. Tak terasa Silet ini menorah di tanganku. Bayang-bayang semu Nampak dihadapanku. Diriku seakan terbang melayang. Kulihat tanah merah dan bertaburan bunga serta isak tangis mewarnainya. Ku lihat mas Khoirul tidak kunjung pergi dari sana, matanya yang merah dan sipit serta deraianya membasahi makam yang torehkan di nisanya telah terbaring SYIFA AULIA bin RAHMAD. 01 Agustus 1992 – 18 Agustus 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan