Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 11 Januari 2012

Sahabat Dido


Karya Suci Choirunnikmah
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1


“Kalaupun memang harus, ya lakukan !”
Itu adalah kata-kata kak Rama yang selalu terngiang dibenakku. Aku tah tahu apa yang harus aku lakukan untuk saat ini. Namun, sifatnya ini benar-benar sangat membuatku bingung. Ku Kalau tak tegur, aku dibilang bukan sahabat yang baik. Tapi kalauku lakukan yang sebaliknya, justru aku membuatnya jahat di mata orang-orang.
****
            Daniva biasa aku dipanggil oleh temen-temenku. Sekarang aku sedang,menduduki sebuah bangku SMA di salah satu sekolah negeri yang terbaik di Surabaya. Dan orang yang sedang ku pikirkan saat ini adalah sahabat karibku, Dido. Dido adalah gadis mungil yang selalu menemaniku kemana-mana. Kami bertetangga. Sejak kecil, aku dan Dido sudah bersahabat. Namun, ternyata ada yang salah dengan persahabatan kami.
            Awal masalahini timbul karena sifat jelek Dido yang amat sudah sekali untuk dirubah. Mulutnya yang ceplas ceplos membuatku sangat kegelimpungan. Dido memang pintar berbicara, namun mulutnya tak dapat distop jika sudah mulai bercerita, berargumen ataupun berdebat. Dan ini terjadi ketika beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Oktober.
            “Emang bener ya cerita kaya gitu? Kamu tahu dari mana, Do?”
            “Aku tahu dari si Mitha langsung kok. Jadi kali ini pasti bener deh!”
            “Berarti aku harus ngomong sama Mitha sekarang”
            Dialog diataslah yang menyebabkan Nanda dan Ical putus. Sebabnya tak lain karena mulut Dido.
“Aku tuh udah berusaha nggak nanggepin Ical, Do. Tapi, si Ical aja yang terus-terusan deketin aku. Lagian aku juga nggak enak sam Nanda”, cerita Mitha pada Dido.
“Terus terus?”, tanya Dido.
“Ya akkhirnya juga kita Cuma sering smsan aja. Eh, tapi kamu jangan bilang-bilang Nanda Lho! Kamu kan tahu si nanda itu orangnya cemburuan. Ntar ngamuk lagi si Nanda”, jawab si Mitha.
“Oke! Tenang aja. Rahasia kamu aman kok di tangan aku”, balas Dido.
Ternyata jawaban Dido tak sama dengan yang Mitha bayangkan. Esoknya, tepatnya saat jam istirahhat, Nanda mendatangi Mitha dan mengatainya habis-habisan. Sungguh tragis apa yang telah Dido lakukan. Dan ia kini bermusuhan dengan Mitha. Itu hanya sebagian kecil dari akibat yang timbul karena ulah Dido. Belum lagi pertengkaran antara Ucha dan Mimi, Riska dan Maya, Etta dan Lusi, Bimbi dan Mikha. Itu semua disebabkan oleh mulut Dido yang tiada hentinya menceritakan hal yang seharusnya ia jaga dengan baik.
Dan sekarang aku, Davina, sahabat karibnya. Yang ia jadikan korban selanjutnya. Entak aku menjadi orang yang ke beberapa yang ia perlakukan. Hal ini bermula dari ceritaku kepadanya tentang Ichank, mantanku.

***
Ichank bukanlah orang yang asing di telinganya. Dido tahu Ichank deket denganku walaupun kami telah putus. Bahkan walaupun Ichank telah memiliki seseorang penggantiku, kami tetaplah sahabat karena kami sudah seperti saudara sendiri. Saat aku menginjak bangku SMA ini, citra pacar Ichank berada di satu sekolahan denganku. Sifat citra yang seperti anak kecil dan pencemburuan tak jarang membuatku was-was. Citra tak pernah tahu bahwa aku dan Ichank sampai saat ini masih sering memberi kabar. Dan sampai hari itu, Citra pun akhirnya tahu.
            SMS itu masuk 5 menit yang lalu. Isinya hanya berisi bahwa Citra ingin bertemu denganku sepulang di taman belakang tempat biasa aku dan Dido nongkrong sepulang sekolah. Tentu aku kaget dengan isi sms itu, karena Citra sama sekali tak pernah bicara denganku, bahkan menyapaku pun tidak. Akhirnya, ku putuskan untuk menemuinya karena didorong rasa perasaanku.
            Aku duduk di tempat yang Citra minta. Dekat dengan ayunan. Tak lama kemudian, Citra datang hanya sendiri.
            “Ada apa, Cit?”, tanyaku dengan nada penasaran.
            “Ichank cerita apa aja ke kamu?, tanyanya dengan nada tinggi.
            “Dia gak cerita apa-apa”, jawabku bingung.
            “Yakin? Ngak usah bohong”, jawabnya dengan ketus lagi.
            “Bener nggak kok, Cit. Kenapa toh?”, tanyaku bingung.
            “Kok kata Dido, Ichank sering cerita sama kamu?”, tanyanya.
            Dido? Mau apa dia? Apa maksudnya menceritakan ini semua. Kepada Citra, batinku.
            “Oooo. Ichank emang sering cerita kok. Tapi, lebih banyak aku yang cerita sama Ichank. Kenapa?” tanyaku dengan memasang senyum.
            “Bener? Ichank nggak cerita soal aku yang suka marah-marah?”, tanyanya lagi.
            “Emm...kalau yang itu .....emmmm..”
            “Udah cerita aja”, jawabnya sambil mengaduk es panasnya.
            “Iya sih. Ichank cerita kok. Tapi kamu jangan marah dulu, Cit”, jawabku memelas.
            “Aku gak bakalan marah kalau kamu jujur. Gimana ceritanya?”, tanyanya.      
            “Sabtu dan Minggu yang lalu, dia sms aku. Dia tanya aku lagi ngapain, ya aku bilang aja lagi di rumah. Dia tanya lagi, Dia boleh gak ke rumah. Ya aku bolehin aja dia, Cuma aku juga tanya ke dia nggak dimarahin sama Citra apa? Dia bilang nggak. Dia katanya malah mau cerita soal kamu. Ya udah gitu ceritanya”, jawabku
“Terus di rumah kamu dia cerita kalau dia lagi berantem sama aku dan aku ngamuk-ngamuk gak jelas? gitu?”.
            “Iya. Aku jelas tanya dong sama dia. Ngapain Citra marah-marah nggak jelas? Nggak mungkin ah Citra kayak gittu.
            “Dia jawab apa?”, tanya Citra penasaran.
            “Dia bilang, kamu tuh kalau Ichank telat dikit aja buat main kerumah kamu atau jemput kamu, kamu langsung ngamuk, gondok, gak mau ngomong, berantem terus Ichank minta maaf terus baikan lagi. Lagian Ichank gak suka kalo pacaran kaya gituuuu mulu. Kalian berdua itu udah sama-sama dewasa. Masa nggak ngerti-ngerti sih Cit?” jawabku panjang lebar.
            “Terus akunya meski gimana, Dan? Lagian kalau Ichank telatnya sekali, dua kali sih nggak apa. Ini udah keseringan!”, jawabnya jengkel.
            “Ya. Kalau soal itu, kamu kan tinggal bilang ngomong baik-baik aja ke Ichank. Eh, si Dido cerita apa lagi ke kamu?”, tanyaku.
            “Dido bilang kalau Ichank juga sering smsan sama kamu. Sebenarnya, itu yang dari tadi aku mau tanyain ke kamu. Emang Ichank sering smsan sama kamu?”, tanyanya dengan wajah kaku.
            “Iya sih. Tapi sekarang udah jarang kok. Paling juga sms kalau ada perlu tentang computer aja. Kenapa?”
            “Kok Dido bilangnya sering?”
            “Itu sih, bisa-bisanya Dido aja”, jawabku sambil menyuapkan degan ke dalam mulutku.
            “Jadi?”
            “jadi apa?”, jawabku bingung.
            “jadi ini karangannya si Dido?”
            “Sebenarnya, cerita Dido ada benernya. Tapi, rata-rata ngelantur. Terutama waktu dia bilang aku sering smsan sama Ichank. Aku smsan sama Ichank juga jarang. Kalaupun iya smsan, yang sms juga aku duluan. Itupun buat curhat”, jawabku cuek.
            “jadi?”
            “jadi apalagi sih?!”, jawabku jengkel.
            “jadi Dido?”
            “Pembohong besar!! Kamu peraya omongan Dido sama aja bego”, jawabku marah.
            “Gitu-gitu juga sahabat kamu!”, jawabnya.
            “Sahabat apaan itu? Isinya ngelantur kalau cerita”.
            “jadi aku meski percaya siapa?”
            “Terserah kamu percaya siapa. Aku pulang dulu. Gila lama kalau dengerin cerita Dido”,  jawabku sambil mengambil tas meninggalkan Citra.
Esok harinya, aku duduk di sebelah Tyan. Mendiamkan Dido.
            “Kok nggak duduk sama Dido? Tumben”, kata Tyan saat sampai di kelas.
            “Tanya sama Dido. Bikin dosa apa dia sama sahabatnya”, jawabku ketus.
            Setelah peristiwa itu, aku tak pernah lagi menyapa Dido. Tak pernah aku bermain kerumahnya sepulang sekolah, mengerjakan PR, ke kantin serta melakukan hal-hal yang baisa aku lakukan dengan Dido. Karena aku tak pernah tahu harus apa dengannya. Aku benar-benar marah, kecewa, ,jengkel dan tak tahu harus apa. Untuk kali ini, Dido benar-benar bukan sahabat untukku.
****
            Dido tak pernah sedikitpun menyinggung masalah kami. Bahkan, dia tak pernah merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan padaku. Seandainya Citra mendengar dan menelah utuh cerita Dido, mungkin sekarang aku telah bermusuhan dengan Citra. Dan hubungan Ichank dan Citra akan berakhir. Walaupun itu Cuma seandainya. Setelah 2 bulan lebih aku tak pernah menyapa Dido dan tak sore itu. Kak Rama menanyaiku dan memberikan solusi itu.
            “Kalaupun memang harus, ya lakukan!”
            Aku sempat menyangka Kak Rama bercanda denganku. Yang benar saja! Aku dan Dido sedang bermusuhan! Dan aku harus menegurnya?! Hah! Biar saja ia dijauhi oleh anak satu sekolahan. Biar dia yang seharusnya tidak ia ceritakan kepada orang yang bersangkutan, ia lakukan. Tapi, aku terus dihantui rasa bersalah karena aku tak kunjung menegur Dido. Dan aku akan melakukannya hari ini juga.
            Aku menitipkan pesan pada Lala. Teman sebangku Dido untuk menyampaikan pesan bahwa Dido ku tunggu di taman untuk berbicara dengannya.
            Jam satu lewat lima. Dido belum terlihat batang hidungnya. Dan lima belas menit kemudian, Dido datang.
            “Kenapa Niv?”, tanyanya.
            “Aku mau bicara penting soal masalah kita. Tentang kamu lakukan ke aku, Mitha, Ucha, Mikha dan temen-temen lain”. Dido tertunduk lesu.
            Dan aku mengatakan semua yang teman-tean katakan padaku. Tentang bagaimana sakit atinya mereka saat cerita yang seharusnya Dido rahasiakan, tapi malah disampaikan kepada yang bersangkutan. Dido menangis dan menyesal. Ia tak tahu tentang masalah itu karena tak pernah ada yang menegur dan memberitahunya. Aku sungguh kasihan dan merasa bersalah pada Dido. Kemana aku selama ini sebagai sahabatnya? Ya Tuhan, terima kasih telah menegurku lewat Kak Rama. Kalau tak ada diam sampai saat ini pun pasti akan tetap bermusuhan dengan Dido.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan