Karya Pinasti
Kelas XF
Gerimis sore itu masih saja menitik walaupun sudah tak sekencang siang tadi. Sussana muram masih saja menyelimuti keluargaku yang berbalut luka duka. Hingga tak ada suara satupun selain suara rintik gerimis yang berjatuhan. Ya,, ayahku baru saja dipanggil olehNya . ayahku tlah kembali ke sisiNya dengan tenang. Baru saja ayahku dimakamkan, bahkan tanah yang masih merah bertabur bunga – bunga semboja itu basah oleh rintikan gerimis di sore itu. Tets – tiap tetes air mata ibuku masih saja mengalir. Seolah – olah tak mau kalah dengan tetesan gerimis di sore ini. Kesedihan dan kesumpekan jelas tepancar dari aura ibuku yang tlah kehilangan suami sekaligus ayahku itu. Beberapa tetangga sudah berusaha untuk menghiburnya namun tetap saja tak dipedulikan oleh ibuku. Sedangkan aku dan adikku hanya diam saja di samping ibu yang sedang menangis . aku kasihan melihat ibu, tak tega aku melihat ibu yang terus menerus keluar air mata.
Aku menjadi sedih, aku paham betul apa yang dirasakan ibu sekarang. Pastilah sangat pedih bahkan amat sangat perih. Dan mungkin sama seperti yang aku rasakan. Kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku dan ibuku. Padahal ayahkulah yang setiap hari banting tulang memenuhi kehidupan keluarga, biaya sekolah, dan babibu lainnya. Hingga aku minta ini minta itu, semua terpenuhi oleh ayah. Namun, setelah kepergian ayah siapa lagi yang memenuhi kebutuhan keluarga? Sedangkan Ibu sakit – sakitan, pastilah tak bisa kerja keras. Hmm, mau tak mau akulah yang harus maju menjadi beban tumpuan hidup lantaran akulah anak tertua. Namun kalau aku bekerja aku sungguh tak rela meninggalkan sekolahku dan mewujudkan impianku tuk jadi seorang sarjana insinyur pertanian. Padahal aku selalu mengutarakan impianku itu pada semua orang termasuk almarhumah ayahku. Akankah cukup sampai disini perjuanganku?
“ Farhan,, sini nak!,” panggil ibu di ruang keluarga .
“ Iya Bu, ada apa Ibu memanggil Farhan?,” tanyaku.
“ Han, kamu kan sudah kelas XII SMA dan sebentar lagi mau ujian bukan? Dan setelah itu kamu ingin kuliah bukan, tuk meraih mimpi – mimpimi? Dan kamu ingin kuliah dimana Han,” tanya Ibu halus.
Farhan bingung mau menjawab apa, ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Di satu pihak ia ingin membantu ibunya untuk memnuhi kebutuhan keluarga yang semakin tak menentu. Dan di pihak lain ia juga tak ingin melupakan impian yang telah jadi darah dagingnya yaitu ingin jadi insinyur pertanian.
“ Farhan kerja saja Bu. Bantu – bantu ibu untuk biaya adik – adik sekolah,” jawab farhan hati – hati.
“ Apa? Tidak Farhan bukankah kamu ingin jadi insinyur pertanian? Apakah kamu sudah lupa dengan semua cita – cita yang pernah kau utarakan sendiri dengan almarhumah ayahmu ?? Mau kerja apa kamu seumuran ini. Kamu harus tetap sekolah Farhan,” bantah Ibu.
“ Memang Bu Farhan ingin jadi insinyur pertanian tapi Ibu tahu sendiri kan kalau keadaan ekonomi kita sudah tak memungkinkan lagi untuk Farhan kuliah?,”” ungkap Farhan.
“ Oh, jadi masalah biaya? Sudahlah Farhan kau tak usah pikirkan terlalu muluk masalah itu. Belajarlah kamu nak. Raihlah impianmu. Ingat Keinginan adalah kunci motivasi, tapi tekad dan komitmen itu pengejaran tanpa henti untuk sebuah tujuan yaitu komitmen menuju keunggulan yang akan memungkinkan kamu untuk mencapai keberhasilan yang kamu cari.. Alloh pasti menolonh kita nak,” ungkap Ibu panjang lebar.
####^^^^^^^^^###
Hasil pengumuman Ujian Nasional akan diumumkan satu bulan lagi. Dalam jangka waktu itu Farhan berusaha untuk bekerja secara serabutan apa adannya. Pastinnya atas izin ibunnya. Begitupun ibunnya yang juga banting tulang dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Biarpun rasa capai dan lelah kedua ibu beranak itu tetap bekerja . ikhlas adalah kunci utama bagi mereka. Ibu Farhan yakin seklai bahwa keikhlasan dan kesabarannya dalam memberi motivasi pada anak – anknya sangat mempengaruhi semangat anak. Ia hanya ingin anak – anaknya bisa mengenyam lebih banyak pendidikan meski dalam kondisi keterbatasan ekonomi.
Satu bulan berlalu. Farhan mendapati namannya tercantum pada selembar kertas putih yang tertempel di papan pengumuman di sekolahnya. Betapa bungahnya hati farhan karena mendapati namannya ada di nomor satu dari urutan peserta ujian nasional se Karesidenan . ia pun segera pulang dan memberitahukan ini pada ibunnya.
“ Ibuu.... Ibu dimana? ,”Teriak Farhan setelah sampai rumah.
“ Ibu disini Nak di dapur,” kata ibunnya.
“ Bu, lihatlah anakmu Farhan mendapat juara satu pada unas ini Bu,” ungkap Farhan sambil berjingklrak – jingkrak.
“ Alhamdulillah Farhan, selamat Nak,” ungkap ibu sambil memluk Farhan.
“ Iya Ibu terimakasaih,” jelas Farhan.
“ Nah sekarang ayo nak kemasi barang – barangmu dan segeralah kau tuntut ilmumu di Jepang Nak,” jelas Ibu.
“ Apa? Kuliah di Jepang? Ah ibu bercanda,,” sindir Farhan.
“ Tidak Nak, ibu tidak bercanda. Kamu inu ajukan pada Pak Mamat bos ibu untuk dibiayai sekolah disana. Sudahlah masalah biaya kau tak usah khawatir,” jelas ibu.
“ Kalau itu mau Ibu InsyaAlloh akan Farhan turuti bu, Farhan akan buktikan pada ibu kalau farhan bisa menjadi apa yang ibu dan Almarhumah ayah harapkan,” ungkap Farhan.
“ iya nak, jangan kau keewakan Ibu dan almarhumah ayahmu, beranbgkatlah Nak raihlah cita – citamu doaku kan selalu menyertaimu Farhan, anakku,” tutur ibu.
5 TAHUN KEMUDIAN
Mobil Jazz merah telah memasuki daerah karesidenan dengan mulusnya. Dan mobil itu berhenti sejenak ketika melewati jembatan kayu. Seorang lelaki gagah nan berwibawa turun dari dalam mobil itu dan melangkah ke jambatan kayu. Ya, dialah Farhan peraih ujian nasional tertinggi se karesidenan lima tahun lalu. Sekarang nampak ia sudah mendapat gelar sarjana insinyur pertaniannya.
Setelah sampai beberapa meter ia elihat rumahnya sudah padat dikerubungi orang. Ada apa gerangan? Tanyanya da;lam hati. Ia mulai melangkahkan kaki perlahan – lahan antara sadar atau tidak dunia seolah – olah menghitam legam. Ia tak sadar apa – apa.
“ Ibbbuuuuuuuuuu,” teriaknya histeris.
“ Ibu mengapa kau tega tinggalkan aku ibu, aku belum sempat membalas jasa – jasamu. Aku pulang ibu, aku pulang membawa sarjana insinyur seperti yang kau impikan. Ku tlah meraih cita – citaku ibu. Tapi, mengapa belum sempat kau melihatku kau sudah tinggalkanku bu,” tangis Farhan sambil memeluk jasad ibunnya.
Sungguh perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak – anaknya sangat besar sekali . meski tanpa suami, seorang ibu mampu mensukseskan anak – ankanya . dan tahukah kalian biaya kuliah itu sesungguhnya adalah hasil upah ibu yang tak dinikmati oleh ibu sendiri tapi diberikan semua pada anaknya. Jadi Ibu Farhan bekerja tanpa upah, up[ah itulah yang dibuat kuliah farhan hingga ia menjadi seorang Insinyur pertanian.
Untuk itu ingatlah hari ini sudah berapa dosa yang kau perbuat pada ibumu, sudah berpa kali kau sakiti hati ibumu. Berbahagialah kalian yang masih mempunyai seorang ibu, berbaktilah pada ibu kalian. Perlakukanlah ibu kalian dengan baik. Ingat surga kalian ada di telapak ibu kalian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar