Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 11 Januari 2012

Wow, Guruku Bahasa Indonesia Cuantik.....banget.......!!!


Karya Lukman Rohim
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1


            Dipagi yang cerah terdengar suara yang sangat bising yang telah menarik perhatian semua penghuni sekolahan. ”Hai... kalian para brandal, matikan mesin motor kalian yang sudah membuat talinya bapak sakit, ”gertakan pak Tahrir, salah satu waka yang tiba-tiba ada dibelakang mereka. ”Ayo  sekarang parkir motor kalian dan semua berkumpul dihalaman”. ”Baik pak, dasar guru sialan, bisanya gertak dari belakang” sahut Riko setelah memarkir motornya. Setelah itu akhirnya mereka datang juga kehalaman. Kemudian, ”semuanya duduk !”, bentak pak Tahrir. ”dasar anak berandal, pagi-pagi sudah bikin ulah, apa kalian tidak malu kepada guru dan teman-teman kalian ini? Bahkan sudah keterlaluan karena hukuman ini seolah-olah sudah menjadi rutinitas kalian sebelum jam pelajaran dimulai. Sekarang seperti biasa, catat nama-nama kalian setelah itu pergi kekelas masing-masing”.
            Itulah kegiatan rutinitas murid-murid kelas XII IPA yang selalu bikin ulah, mulai dari masuk sekolah hingga pulang sekolah.
            Dengan gaya berjalan seolah-olah seperti preman beneran. Riko Arya, dan Bagus memasuki kelas. Seperti biasa genk yang diketuai oleh Riko itu, meminta uang teman-temannya yang lain. Biasanya adalah anak –anak yang pendiam dan tidak punya keberanian. ”He....lo, mana jatah sarapanku pagi ini? ”Memangnya aku bapak mu?”. ”Apa lhooo bilang.....lho belum tau siapa gue? Perkenalkan nama gue Riko”, sambil memegang leher  temannya yang tak mau memberinya uang.
            Datanglah guru matematika. ”pagi anak-anak?. Semua murid diam tanpa ada yang menyahut salam dari gurunya itu. Tak lama kemudian “Bentar bu, masih naggung nih” sahut Desi yang malah repot sendiri ngurursin wajahnya (dandan). ”iya nih bu, saya juga masih ngantuk, pelajarannya dimulai nanti aja ya bu? ”sahut arya sambil menguap.
            Dasar kalian ini, masih sekolah sudah belajar menjadi anak brandal yang tak punya  sopan santun dan menghormati gurunya. Oh...ya memang kata guru-guru yang telah mengajar kalian. Kalian anak yang tak dapat diatur oleh siapapun. Mulai sekarang saya tidak akan mengajar kalian lagi ! ”gertak dana ancaman guru Matematika. Tapi aneh, ancaman sekeras apapun yang dilontarkan dari guru-guru kepada murid-muridnya itu tak ada pengaruhnya sama sekali. Bahkan mereka hanya tertawa dan tersenyum saja.
            Bel panjang berbunyi tanda bahwa sudah waktunya pulang. ”Hore.... ayo kita pergi ke mall dulu, sambil menanti matahari mulai tenggelam! ”kata Bagus.” Oke kita berangkat! sahut Andre.
            Panas matahari yang menyengat kulit seakan-akan tak terasa karena telah terobati oleh suara canda tawa Andre dan teman-teman yang sedang menggoda cewek-cewek yang sedang lewat didepan meraka. ”Aduhai... orang cantik banget ya, Hai cewek kenalan dong....?? Barangkali kita bisa jodoh “goda Bagus. ”Dasar cowok-cowok ganjen. Lihat cewek  lewat ajah tergoda, sial banget itu orang yang digodanya.
            Tak terasa matahari mulai  tenggelam dan hari mulai petang. Akhirmya segerombolan anak muda itu pulang juga ke rumahmya masing-masing.
            Malam yang begitu sunyi dan patang, tiba-tiba terdengar suara-suara motor yang sedang ke sebuah cafe. Ternyata itu adalah anggota geng Riko. ”Hai ...Rik”, terdengar suara diantara kerasnya suara diantara kerasnya suara DJ yang memainkan musik. Ternyata suara itu datang dari tanah pojok. ”Hai.... Desi, ada kalian sudah lama datang ?”. ”Belum kok,masih sekitar 15 menitan deh”. ”Ayo silahkan duduk Rik, nanti kita “dugem” sampai malam ya”, ajak Desi. ”Ok... sayang, kita nanti dugem sampai malam, sahut Riko.
            Malam kini telah larut, serta aluran musik semakin asyik. Meraka kemudian terhanyut oleh nikmatnya malam itu. Tapi salah satu teman Desi ada yang mengajak pulang. “Hai kawan, besok kita masih sekolah. Bagaimana kalau kita udahan dulu? ”kata salah satu teman desi.” iya betul, dari pada besok nggak happy, “ok”sahut Arya, Akhirnya mereka pulang  juga meskipun dengan sempoyongan.
            Keesokan harinya, bel masuk telah berbunyi untuk kedua kalinya (tapi ini menunjukkan waktu ganti pelajaran), tiba-tiba Riko,A rya dan Andre datang. Dengan mengejutkan. disusul dengan gengnya Desi yang datang menyusul setelah Riko dan teman-temannya datang.
            “Wah.... kali ini kita senang-senang, karena tidak ada guru yang mengganti ngajar kita”. Kata Arya dengan perasaan yang gembira .”Hai coy,ngomong-ngomong kalau kita gini terus bosan lagi,” kata Desi.” Hah... itu dipikir nanti saja, yang penting kita senang dulu, Ok “sahut Arya.
            Tetapi lain keadaannya diruang guru yang sedang membahas kenakalan murid-murid kelas XII IPA 1. “Bagaimana ini pak, kini murid-murid sudah tidak dapat diatur lagi. Apa jalan keluarnya pak? Apa bapak tidak malu dengan sekolah lain yang terlanjur memandang sekolah kita ini adalah sekolah favorit di kota ini, yang malu hanya karena murid-murid disekolah ini banyak yang tidak lulus?? Tanya seorang guru kepada bapak kepala sekolah.
            Saya juga heran bu, kepada meraka yang tidak ingin maju atau ingin lulus untuk melanjutkan sekolahnya, padahal 3 bulan lagi akan diadakan UN, sampai–sampai semua guru di sekolah ini tidak ada yang berani mengajar mereka, karena kenakalan anak-anak tersebut, jawab kepala sekolah.
            Kalau begitu ada salah satu cara untuk mengatasi masalah ini. Saya akan menerima guru untuk mengajar  murid-murid yang bandel dan nakal itu. Harus bagaimana lagi, hanya ini satu – satunya cara agar kita bisa mengejar anak – anak itu.
            Kini 3 hari sudah berselang, tiba – tiba terdengar langkah kaki dengan nada yang indah. Tapi ternyata suara itu datang dari utara, dan ternyata adalah suara langkah kaki salah satu seorang guru yang di tes untuk mengajar murid kelas XII IPA 1. ”swit swit swiu....”, suara siulan nakal yang keluar dari mulut anak laki-laki. “Buset deh, itu orang apa boneka Barbie?” kata Arya dengan mata melotot, “Waduh, guru itu menuju kesini, ayo kita masuk ! “, kata seorang murid dengan tergesa-gesa. ”Selamat pagi anak-anak !”. “Pagi mbak.... mbak cantik banget, ngomong-ngomong boleh kenalan nggak? “goda salah satu murid.Oh ya... saya hampir lupa, perkenalkan nama saya Sri Utami atau bisa dipanggil bu Sri. Ada yang mau ditanyakan lagi? “ sapa bu Sri.” Bu saya mau tanya nomer Hpnya berapa? ”Tanya Arya. “Oh itu rahasia, kapan-kapan saja ibo… kasih tahu, nah Sekarang mari kita buka buku pelajaran kalian! “ perintah bu Sri. “Baik bu“, jawab murid laki-laki dengan keras dan serentak.
            Andai dari dulu gurunya secantik ini, pasti bakal betah dan giat belajar nih gue”, sahut Riko. “hust.......banyak mimpi lho, dasar cowok” ,tanggap Desi dengan tatapan cemburu dan iri dengan kecantikan bu Sri. Dengan begini murid-murid cowok tidak ada yang berkutik sama sekali, karena semua hanya bengong melihat betapa cantiknya bu Sri.
            Bel tanda pulang telah berbunyi, semua anak laki-laki berkumpul diparkiran motor dan mereka membicarakan guru baru yang telah mengajar dikelas mereka.”oh ....betapa cantiknya guruku “.sambil melamun dan menghayal tentang bu Sri.
            Hai… semuanya bangun, masih siang kok pada mimpi yang ngeres-ngeres, bangun-bangun!!! “bentak Desi dan kawan-kawan. ”Hah ello Des,pergi sana loh, lho iri ya sama bu Sri yang cantik, sexy dan aduhhai, nggak seperti lo, muka pas-pasan aja dipamerin, ngaca dong.... hahahahaha”, olok genknya Riko kepada Desi dan teman-temannya, ngejalanin motornya untuk pulang kerumah.
            Dua bulan setelah itu mereka ada peningkatan dibidang pelajaran. Mereka mendapat nilai begitu baik karena bimbingan dari bu Sri. Tapi anehnya yang berubah hanya anak laki-laki saja, yang perempuan tetap saja seperti dulu.
            Saat dimulai, tepatnya pada pelajarannya bu Sri sedang berlangsung, bu Sri sempat bertanya kepada murid-murid XII IPA 1. “Apa kini kalian tidak menyesal dengan apa yang telah kalian lakukan selama ini? Berani dengan guru,tidak pernah mengerjakan tugas dan membolos.Apa kalian tidak kasihan kepada orang tua kalian yang telah terlanjur bangga menyekolahkan kalian di sini dengan harapan dapat berguna nantinya ?Tapi naas,kelihatannya mereka salah dengan impiannya itu “, tanya bu Sri kepada murid-muridnya. Tak ada suara sama sekali.”Maaf bu kini kami telah menyesal dengan dengan perbuatan kami selama ini “,sesal semua murid.” Bagus kalau begitu,Belajarlah yang rajin dan sungguh-sungguh” pesan bu sri.
            Satu bulan kemudian setelah UN berlangsung, akhirnya apa yang di nanti-nanti tercapai pula. Dengan nilai kelulusan yang bagus, mereka dapak meneruskan study di Universitas favorit.”terima kasih guruku yang tuantik”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan