Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 18 Januari 2012

LANGKAH KAKI KECIL UJANG


Karya Rizka
MAN Tulungagung 1

Malam semakin larut dengan taburan bintang yang menyebar di berbagai sudut langit, namun hal itu tak menyurutkan langkah kakiku yang dari tadi sore terus mondar-mandir mengelilingi teras, menunggu seseorang yang sudah satu hari ini tidak juga menampakan batang hidungnya. Ujang namnya, dialah sahabatku sejak lama, dia tadi dalam keadaan panik tidak karuan , karena perintah dari sang nyonya yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. baginya, kata-kata yang menganga dari mulut sang ibu merupakan sebuah perintah ratu yang harus dia laksanakan sebagai punggawa. Aku sering terheran-heran melihatnya, tak ku sangka, ibu dan bahkan adiknya tega memperlakukan Ujang seperti seorang pembantu.
Pagi buta, Ujang harus brgegas membersihkan diri lantas pergi menuju tempatnya bekerja di pengeboran batu bara sebagai buruh pengangkutan batu bara yang membuat seluruh pundak terasa sangat sakit. Dan setelah itu , dia harus bergegas melangkahkan kakinya menuju hutan untuk berburu. Sungguh sangat ironis, seperti tak ada waktu untuk anak usia 18 tahun itu menyandarkan dirinya sekedar beristirahat pada tempat tidurnya.
Dan hari ini memang hari yang paling membuat ujang kelelahan, dia harus segera mencari uang untuk mengabulkan permintaan adiknya yang merengek meminta sepatu warna. Sekali lagi, Ujang terlihat seperti robot yang mengiyakan saja semua perintah adiknya. Tadi ku lihat dia sempat bersandar pada bamboo di depan rumahku, namun tak berkata apa-apa, bahkan pertanyaan yang ku lontarkan hanya di jawabnya dengan menganggukan kepalanya, dan wajahnya sangat terlihat bingung , memandang ke arah para pelajar cantik yang lewat di depan rumahku pagi itu. Aku kira, dia mulai ada perasaan, ternyata dia memandang kearah sepatu yang mereka kenakan.
“Mal…. Kira-kira berapa ya , harga sepatu itu?” tiba-tiba ia bertanya ke padaku…
“ Waduh jang….. kamu tu lha kok aneh-aneh wae, gawe opo tow kamu beli sepatu??” tanyaku heran sedikit tertawa mendengar pertanyaan yang bagiku sangat tidak masuk akal.
“ Emmmm….. itu lho kamal…..”
“Apa ujang?? Sepatu buat si Kekasihmu Wati??” ledek ku….
“ Aku serius Kamal…… iku gawe adiku, aku kudu numbasne….. “
“Kalau sepatu jaman sekarang gak ada yang murah jang….. jadi kamu mungkin harus mengeluarkan keriangatmu hingga terkumpul uang 50.000” sahutku……..
Tiba-tiba dia langsung bergegas berlari , mengambil senapanya dan langsung menuju ke hutan belantara dekat pesawahan itu. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya yang saat itu sedikit panic mendengar kata lima puluh ribu. Aku pun yang saat itu hanya bisa memandang dera langkah kakinya yang semakin cepat, tak dapat menghalaunya, bahkan untuk sekedar bertanya ada apa gerangan.
Itu lah saat terakhir ku temui Ujang, dan hingga larut malam begini aku sama sekali tak mendengar langkah kakinya yang biasanya selalu terdengar di depan rumahku , sembari keluar dari mulut kecilnya keluh kesah dan unek-unek setelah lelah mencari uang. Memang kejadian dua tahun lalu yang mengubah keluarga harmonis itu menjadi keluarga yang di panasi oleh hawa-haawa dari neraka. Saat itu terdengar cekcok yang sangat luar biasa terdengar dari rumah berbilik bambu itu, Ujang yang bertengkar hebat dengan ayahnya di karenakan Ujang menentang ayahanya menikah lagi dengan janda sebrang desa, yang tak lain tak bukan merupakan musuh bebuyutan ibunya. Sebilah pisau tajam di sahut ayahnya dari dapur, pisau lancip itu hendak di tancapkan ke Ujang, namun tanpa sengaja Ujang menangkis dan berbalik arahlah pisau itu ke arah ayahnya. Seketika itu juga ayahnya tersungkur dan meninggal dunia.  Adik dan Ibunya yang datang langsung mengira bahwa Ujanglah yang membunuh ayahnya. Itulah bodohnya Ujang, mengapa dia tak terus terang saja apa penyebab pertengkaran itu, ketika ku tanyai, dia hanya bilang kalau dia menjaga hubungan ibunya dengan janda kembang itu yang sering kali bertengkar…. Haahh,,,, sangat tak ku sangka, dia rela jadi sumber amarah keluarganya hingga sekarang, demi ke utuhan hubungan ibunya dan janda itu.  “ Aku tak tega, “ kataku dalam hati.
Malam semakin menunjukan kegelapanya , dengan bintang –bintang yang bagiku itu bukan lagi sebuah hiasan langit. Dan tiba-tiba suara ibu-ibu dengan lantangnya menyeruap ke telingaku.
“ Kamal…. .   di mana kamu sembunyiin Ujang…!!!” bentak ibu ujang,
“ Saya tidak tahu mak sopi…… dari tadi saya menunggui dia pulang.” Jelasku memperjelas bentakan itu.
“ Kamu jangan sok menutup-nutupi semuanya dari saya”
“ Apakah mak tahu, dia belum pulang karena dia hendak mengabulkan permintaan si Sari, dia rela tidak pulang, dia rela mengahabiskan masa remajanya, hanya untuk perintah dari  anda, semua peluah yang menetes, darah yang terkadang keluar dari tanganya yang terkena batu, bahkan niatnya untuk membeli radio kesayanganya tak dia hiraukan…. Ini semua karena anda, dia yang selalu menjaga perasaan anda selama 2 tahun ini, dia yang selalu menutupi semua kebenaran atas kematian ayahnya, anda baru tahu kali ini kan, baiklah mungkin ini akan membuat anda syok berat namun jika tidak saya katakana tidak akan merubah pemikiran anda kepada si Ujang . Pertengkaran yang dulu terjadi sebenarnya karena dia ingin membela anda, suami emak yang mau menikah lagi dengan si mona, anda tahu kan Mona?? Dia janda sebelah, dia pun tak sedikit pun membicarakan hal ini karena dia menjaga perasaan anda, semulia hati siapa pun menurut saya nggak ada yang seprti Ujang” jelasku panjang lebar.
Seketika itu juga ibu Ujang menitihkan air mata, dan lemas di tempat aku bercerita, setelah lama kita berbicara, ahirnya ibu Ujang segera melangkahkan kakinya, mencari Ujang.
“ Makkk………. Makk……. Ada mayat yang di temukan di hutan,,,, tapi saya gak tahu siapa,,, kayaknya kang Ujang…..” Teriak Sari sambil berlari ke Arah kami….
Seketika itu aku tak tahu harus berkata apa lagi,  aku diam, aku menangis, aku sedih…. Aku terlambat jujur….  Sahabat karibku sekarang telah tiada.
Bukan hanya aku, namun ibu Ujang malah menangis tak karuan, ini membuatnya sadar akan kesalahan terbesarnya, namun semua ini terlambat. Ujang telah tiada, sang penjaga hati telah berpulang ke Tuhan. Ini penyesalan ku….
Saat semuanya meratapi kejadian itu, tiba-tiba suara lirih datang menghampiriku, yang saat itu bersama Ibunya Ujang.
“ Mak….. Mak….. saya sudah mendapatkan uang untuk Sari makk….. “
Sosok suara itu memanggil Ibu Ujang dengan sebutan Emak…. Siapa dia,,,???
Kami pun mencoba menoleh, mencoba sedikit berharap bahwa itu Ujang, meskipun itu hamir tidak mungkin.
Setelah menolehkan muka, tiba-tiba pelukan Ibu Ujang langsung di tujukan kepada laki-laki itu, dan ketika  aku ikut menoleh, ternyata Dia Ujang……..
Subhanallah……. Ujang…….. Ternyata yang tadi sempat di perkirakan mayat Ujang adalah mayat seorang pendaki yang meninggal, dan alasan Ujang pulang terlambat adalah dia harus menjual semua hasil buruannya.
Sejak saat itu, tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi anggapan Ratu dan punggawa, semuanya sama rata, semuanya membaik seperti sedia kala, sebelum ayahnya meninggal…. Dan aku tetap menjadi seorang yang mengemban rahasia, namun kali ini bukan masalah janda itu namun masalah Ujang dan kekasihnya Wati yang semakin romantis saja, bagaimana dengan aku?? Biarlah aku tetap menjomblo…………….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan