Anonim
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1
Derai air mata tak kunjung usai di hadapan tanah merah. Terbesit kenanganku bersama Dinda dan apa yang telah kulakukan padanya sehingga kematian telah menjemputnya. Aborsi yang tak berhasil itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Nafsu yang telah kupaksakan padanya malam itu merupakan hantu yang akan membuatku tak dapat merasakan cinta lagi, tiap hariku di bayangi kesalahan, kebencian, penyesalan.
Telah 5 tahun berlalu setelah terdinya itu, namun tak kunjung sembuh rasaku. Tetes air mata selalu membasahi pipiku ketika terbayang senyuman Dinda yang tulus menyayangiku. Namun telah kuhancurkan. Doni, sahabat karipku yang selalu menghiburku dan berusaha menghentikan rasa benciku terhadap diriku sendiri. Dia selalu mengenalkan teman-teman perempuanya agar aku dapat melupakan Dinda dan menemukan rasa cintaku yang dulu. Namun itu justru sia-sia. Aku tak dapat merasakan suka kepada perempuan.
Seperti biasa, tiap malam minggu aku pergi ke bar bersama Doni, tak luput dia mengenalkan ku kepada teman perempuanya, cewek cantik, putih, langsing dan manis tidak mengunjingkan rasaku, apalagi dengan baju super minim itu membuatku merasa jijik padanya. 5 menit ku bersamanya membuatku bosan. Ku berpamitan dan pulang kerumahku. Inginya rumah ini ku persembahkan untuk Dinda dan anak-anak kami kelak. Rumah berlantai dua dan kolam renang lebar di belakang merupakan tempat bermalas-malasan ketika ku tak bekerja di kantor, sepi-sunyi, dan kelam yang ku rasakan di rumah ini. Ku baringkan tubuhku di ranjang lebarku, ku nyalakan tivi 21 inci yang tertancap di tembok. Dan aku terlelap dalam capekku.
Siang hari ku berangkat ke kantor. Karena tadi bangun kesiangan aku menancap gas mobilku dengan sangat kencang. Tiba-tiba gubrakk……, terdengar mobilku menyerempet sesuatu. Aku keluar mobil. Terlihat seorang gadis berkerudung putih berbaju pink tergolek tak berdaya di samping mobilku. Tanpa berfikir panjang lagi ku angkat tubuhnya yang mungil dan manis itu ke dalam mobilku. Ku bawa kerumah sakit AISYAH di kamar mawar no 1. Kamar yang berisi satu ranjang itu sangat sepi. Setelah di periksa dokter, dan mengetahui bahwa dia hanya butuh istirahat hatiku sedikit lega. Ku pandangi gadis manis itu, putih, pucat. Namun dengan senyum di bibirnya membuatku teringat akan Dinda. Dia mirip sekali dengan Dinda. Aku menunggu nya hinggga larut malam dan tertidur di samping ranjangnya. Tersadar, tangan lembut menyentuh tanganku berusaha membangunkan aku. “Mas…mas…aku dimana??? Siapa anda ???”.”Kenalkan aku Zima, kamu tak sadar diri dari kemarin karna tertabrak mobilku, “maafkan aku “jawabku dengan terbata-bata. “Oo begitu “Jawabanya dengan air mata meleleh dimatanya. Rasa apa ini, aneh sekali, aku merasa takut melihatnya menangis. “ Kenapa kau menangis ??”
“ Seharusnya kemarin aku berada disamping ibuku dan mengucap selamat ulang tahun pada beliau “. Tambah deras tangisnya di hadapanku. “Sudahlah, saya janji akan mengantarmu ke ibumu setelah selesai”.
Saya memapahnya ke mobil setelah keluar rumah sakit. Kami menuju kerumah ibunya. Di tengah perjalanan dia minta berhenti di depan took bunga pemakaman., dia membeli sebungkus bunga dan kembali ke mobil. Aku terheran melihatnya. Lalu kami berhenti di pemakaman, sungguh membuatku terkeju. Aku memapahnya sampai di salah satu makam tua. “Ibu, maafkan aku, seharusnya aku mengucapkan kemarin,selamat ulang tahun ibu, aku saying ibu dan semoga ibu selalu tersenyum disana.”katanya kepada makam itu, senyum hangat itu kembali terbesit dalam do’anya.”Ibuku. adalah satu-satunya orang yang ada di sampingku, beliau menyayangiku lebih dari apapun, biliau rela mengorbankan apapun untukku. Curhatnya .”Seperti Dinda, dia menyayangiku lebih dari apapun namun apa yang kulakukan padanya. Air mataku mulai meleleh lagi. Dengan lembut tangan gadis itu mengusap air mataku. Terlelap bayangan Dinda yang mengusapku. Sungguh dia mirip Dinda.
Setelah hari-hari itu hubunganku bersamanya semakin dekat. Telah ku temukan rasa yang sempat hilang. Hari ini rumahku yang sepi telah ramai dengan suara tangis bayi imut kami. Antara Syifa dan Dinda telah menjadi satu di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar