Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 04 Januari 2012

Masa Lalu

 Karya Eko Ady Wijaya
Kelas XII 1
MAN Tulungagung 1



Hari itu dia akan pergi meninggalkanku. Ku pandangi wajahnya dan kulihat seolah berat di hatinya untuk meninggalkanku. Namun, harus bagaimana lagi? Semua ini harus diakhiri karena cinta kita tak direstui lagi.
Air matapun mengalir dari kedua mata indah itu, membasahi pipi manisnya yang seakan menambah pilu hatiku. Dia dan aku berjanji akan saling setia, saling menanti, dan akan bertemu lagi. Dengan sejuta permintaan maaf terucap dari bibirnya, diapun melangkahkan kakinya pergi dari sisiku. Kini dia talah pergi. Tak terasa air mataku mengalir mengantar kepergiannya. Apakah mungkin akan ada lagi kabahagiaan yang datang padaku setelah mutiara yang paling ku dambakan kini telah hilang dari sisiku?
Dua bulan yang kini telah ku jalani sendiri dengan harapan kita bisa bersama lagi. Aku terkejut saat ku dengar kau sudah tak sendiri lagi. Hatiku terluka dan ku sangka kau telah menghianati cintaku. Anganku pun melayang pada kenangan 5 bulan yang lalu saat semua baik-baik saja. Kita duduk berdua, saling mengukir janji dan menghibur hati yang dilanda sepi.
“Aku ingin waktu berhenti detik ini…” ucapnya lirih. “Aku pun tak ingin ini segera berakhir, kerena memang ini takkan pernah berakhir.” lanjutnya.
“Apa  benar kamu tak akan pernah meninggalkanku??” ucapku pada Lyna.
“Dan aku lebih memilih mati dari pada melakukan itu…” jawabnya.
Dulu dia sendiri yang bilang cinta ini akan abadi untuk selamanya. Dan hanya tangan tuhan yang akan memisahkan kita. Tapi apa? Kau sekarang telah menghianatiku.Akupun terus melangkah dan terus mencari, walau hati ini telah terbelenggu oleh cintanya. Namun aku terus melangkah di tengah gellap gulita, hingga akhirnya kutemukan setitik sinar lilin yang mampu menerangi hatiku hingga hari ini.
Hujan gerimis sore itu saat aku berjalan diluar rumah sambil melihat orang yang berlalu lalang. Kulihat sosok itu menghampiriku. Dan benar, dia adalah Lyna, Cinta pertamaku.
“Aku masih sayang kamu.”ucapnya lirih sambil menangis. Hatiku goyah mendengarnya. “Semua hanyalah salah paham. Aku tidak pernah menghianatimu. Justru kedekatanmu dengan Mega yang menghianatiku…” ucapnya lagi.
“Tidak..! Aku dan Mega hanya berteman.Tidak lebih..” jawabku sedikit bergetar. Tapi kulihat dia tak percaya.
“Aku nggak percaya sebelum kamu membuktikannya.” ucapnya lirih disela isak tangisnya. ”Lyna yang kamu cintai telah mati…kamu sendiri yang menguburnya dengan semua ini.” ucapnya lalu berlari pergi dan menghilang di ujung jalan.
Walau dalam hati kecilku aku sudah terlanjur terluka dan melupakannya, tapi tak bisa kupungkiri hatiku terenyuh saat bertemu dengannya. Namun kini aku telah hidup dengan lilin baruku. Walau tak seindah dan tak seterang kemarin tapi aku amat sangat bahagia bersamanya.
Aku mengajak Mega untuk menemui Lyna agar dia percaya aku tak ada hubungan dengan Mega. Lyna akhirnya percaya. Tanpa ku sadari lilin kecilku mengetahui apa yang terjadi hari itu. Hingga sore itu Aya menghampiriku dan tersenyum manis.
“Boleh aku bertanya? Tapi jawab jujur ya??” ucap Aya tiba-tiba.
Aku terkejut mendengarnya. Lalu aku menjawab, “Boleh, tanya soal apa??”
“Apa kamu masih mencintainya?” ucap Aya lirih sambil menatapku dalam-dalam seolah ingin membaca isi hatiku.
“Aku akan jujur, tapi kamu jangan marah ya? Ya, memang aku masih mencintainya.” ucapku lirih.
Aya seketika terdiam dan mengalihkan pandangannya dariku. Sorot matanya berubah seakan menahan tangis. Lama kami berdua diam tanpa ada yang berbicara. Hingga kemudian dia kembali bersuara
“Jika kamu masih sayang dia, kembalilah padanya….aku rela….” ucapnya lirih.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku nggak mau… Aku mencintaimu.” ucapku saat mendengar ucapannya.
“Tapi ini yang terbaik…Pulanglah, sudah sore…”lanjutnya lirih sambil berusaha tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca.
Ku lihat dia berbalik, kusadari Aya menangis olehku dan coba disembunyikannya. Aku tak bisa berbuat apapun lagi. Lilin kecil yang menerangi hariku telah ku lukai. Dan betapa lembut hatinya ketika dia tak marah padaku. Akhirnya aku benar-benar sadar bahwa sosok seperti Aya yang ku butuhkan.Dan aku tak akan menyia-nyiakannya lagi.
“Maafkan aku menyakitimu Lyn? Tapi ini semua memang harus berakhir. Biarkan semua kenangan kita menjadi bingkisan kalbu yang akan tersimpan sebagai kenangan. Terima kasih atas cintamu. Maafkan aku… Lupakan aku… Semoga kamu bahagia.. Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih dariku... Semua yang berlalu biarlah jadi masa lalu,,, Sejuta maaf,,,,Wijaya.” Ku ucapkan kata terakhirku sebelum meninggalkan Lyna sendiri.
            Saat semua tak seperti yang kau mau. Saat itu tersimpan rencana-Nya yang paling indah untukmu. Syukuri dan jalani hidup ini apa adanya. Lakukan yang terbaik. Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah Yang Maha Adil lagi Maha Kuasa.
“Wijaya lagi ngapain sich? Ngelamun yaa?” ucap Aya tiba-tiba mengagetkanku. Aku terbangun dari lamunanku. Kulihat Aya telah duduk disampingku sambil memandangiku.
“Nggak kok, aku lagi mikirin kamu,,,” jawabku yang mampu membuatnya tersipu malu.
“Ayo kita pulang Ay,,,?” kataku kemudian.
Aku tersenyum lalu menggenggam tangannya dan beranjak dari bangku taman. Dia lalu berjalan disampingku. Aku berjanji akan selalu disampingmu Aya. Menemani langkahmu saat ini dan hingga tua nanti. Dan tak kan ku biarkan masa lalu memisahkan kita.

Pesanku :
Kadang cinta itu indah namun kadang juga menyakitkan. Tapi tak seharusnya cinta membuat kita mengakhiri hidup ini. Sungguh sedih, kecewa, dan marah itu manusiawi. Tapi hidup harus terus berjalan. Percayalah, tersimpan indah dibalik derita. Karena keindahan akan datang pada waktunya. Yakini bahwa Allah tuhan Semesta Alam yang menyayangi kita.

Ditulis berdasarkan kisah nyata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan