Karya Khusnul Khotimah
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1
Dua orang anak duduk bersebelahan di bangkunya masing-masing, bersama belasan anak-anak lain, sedang asik menggambar di atas kertas A3. Di tengah papan tulis dan di sudut kanan atas setiap kertas A3 tertulis "Cita-citaku". Ibu guru berkeliling dan mengamati pekerjaan murid-muridnya di kelas itu.
Anak perempuan: "Kenapa kamu lihat aku terus?"
Anak laki-laki: "Aku bukan lihat kamu. Aku lihat gambar kamu. Gambar kamu bagus."
Anak perempuan: "Kamu juga. Gambar kamu bagus. Dim, kamu lagi gambar apa?"
Anak laki-laki: "Aku gambar robot. Aku ingin jadi insinyur. Nanti aku akan membuat robot untuk melindungi bumi. Selain bumi, kamu juga. Reni, kamu gambar apa?"
Anak perempuan: "Aku gambar rumah. Aku ingin buat rumah yang besar dan bagus. Nanti kakek, nenek, aku, dan kamu bisa main bersama. Robot kamu juga boleh ikut."
Ibu guru: "Dimas, Reni, Jangan ribut!"
Anak laki-laki dan anak perempuan: "Iyaa, Buuuu!"
Dimas dan Reni tersenyum masing-masing. Sejak saat itu mereka berteman.
Dimas dan Reni lulus Taman Kanak-kanak bersama. Dimas dan Reni melanjutkan pendidikan sampai Sekolah Menengah Umum di sekolah yang sama. Ayah Dimas adalah seorang pengusaha sukses. Reni tinggal bersama kakek dan neneknya sejak kecil.
Dimas dan Reni lulus Sekolah Menengah Umum bersama. Dimas dan Reni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri yang sama. Dimas memilih jurusan manajemen atas saran ayahnya. Dimas direncanakan untuk menjadi pengganti ayahnya di kemudian hari. Dimas mendukung rencana orangtuanya. Rei memilih jurusan arsitektur, jurusan yang berbeda dengan Dimas. Reni sibuk dengan aktivitas kuliahnya, sedangkan Dimas sibuk dengan kegiatan organisasi yang diikutnya.
Dimas dan Reni lulus dari Perguruan Tinggi bersama. Dimas ditawari untuk melanjutkan studi oleh orangtuanya, tapi Dimas memutuskan untuk mencari pengalaman kerja dulu. Dimas mendapat pekerjaan sebagai pemasar di sebuah bank internasional. Pekerjaan di bank adalah impian banyak orang. Reni mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Pada awalnya, Dimas dan Reni masih saling berbalas e-mail. E-mail dari Dimas berisi cerita tentang dia dan teman-teman kerjanya, pencapaian yang diraih, sampai kebosanan dalam bekerja. E-mail dari Reni berisi cerita tentang dia dan teman-teman kuliahnya, foto-foto dia, dan untaian kata penyemangat bagi Dimas. Semakin lama, balasan dari Reni maupun Dimas semakin lambat. Telepon juga jarang dibalas. Jurang di antara mereka semakin lebar dan dalam.
Dua tahun kemudian mereka sudah hampir tidak pernah berkomunikasi lagi Dimas memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan dia melamar ke sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di luar negeri Dimas merasa sangat jenuh dan bosan dengan pekerjaannya.
Keesokan harinya Dimas berangkat ke bandara diantar Ibu dan supir-ayahnya. Setibanya di bandara Dimas disambut oleh beberapa orang teman kuliah dan kolega kerja-nya. Antrian untuk menukar tiket tidak terlalu panjang. Ponsel Dimas berbunyi.
"Hello!" " Dimas, kamu ada di mana?"
"Aku sudah di bandara, Pa!"
"Tuuut..." Telepon terputus.
Telepon Nusa berdering lagi…
"Maaf, Pa, tadi telepon terputus tiba-tiba."
"Ga apa-apa, boleh aku konfirmasi hadiah undianku sekarang?"" Dimas! Kamu ga inget aku? Aku ga sangka daya inget kamu pendek banget."
"Mmm... Reni?"
"Aku saudara tiri kamu!"
"Cuih! Sodara tiri yang ngeselin. Kamu ada di mana?"
"Aku baru sampai di bandara nih. Ini nomer ayahku."
Satu jam menuju waktu keberangkatan. Jantung Dimas berdegup kencang. Setelah mendapatkan boarding pass, Dimas bergegas ke sebuah kios makanan cepat-saji Seorang gadis berjaket panjang tebal berwarna hitam duduk manis. Dia menghampiri gadis itu.
" Reni!"
"dimas, kamu tambah tinggi yah”.” Reni berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Nusa.
"Kamu terima SMSku?"
"Aku terima sesaat sebelum aku kembali ke sini. Jadi, kamu mau ke mana nih?"
"Aku mau susul kamu.
“Kamu beneran mau susul aku?"
"Yup, tapi kamu malah ada di sini."
"Jurusan apa?"
"Manajemen.".
"Kamu suka dengan pekerjaanmu yang dulu? Seinget aku, setiap kali kamu kirim e-mail, lebih dari setengah isinya adalah keluhan kamu. Baca aja bikin mataku sakit, apalagi bales. Aku jadi males."
"Aku juga males terima e-mail kamu. Foto, foto lagi. sepuluh mega,. Pekerjaanku yang dulu, menurut aku, bagus. Aku kerja di tempat yang nyaman, aku bisa menabung, aku bisa meniti karir, ga ada yang salah."
"Kenapa kamu keluar?"
"Aku merasa bosen. Aku merasa jenuh. Aku merasa capek kerja di sana."
"Atau.. kamu merasa ga suka?" Reni melanjutkan, "Kamu inget ga, gambar apa yang kita buat waktu kita masih TK."
"Ha. Ha. Ha. Itu kan dulu."
"Tapi itu cita-cita kamu."
Dimas diam. Dimas teringat akan gambar yang dulu dia dan Reni buat. Reni membuat gambar rumah, sedangkan Dimas membuat gambar robot. Reni masuk jurusan arsitektur atas kemauannya sendiri, sedangkan Dimas masuk jurusan manajemen atas kemauannya sendiri yang didasari oleh saran Ayahnya. Reni akan bisa merancang dan mewujudkan rumah yang ingin dibangunnya ketika dia masih kecil. Sekarang Dimas memang tidak ingin membuat robot, tapi Dimas tertarik pada elektronik. Dia kerja dalam bidang perbankan, bukan elektronik seperti yang disukainya. Waktu keberangkatan sudah semakin dekat."OK, aku akan pertimbangkan pilihanku lagi. Reni, ... Terima Kasih.""Sudah mau berangkat?""Yup!""OK, sampai jumpa lagi!"
Reni mengantar Dimas sampai ke gerbang keberangkatan. Mereka berpisah lagi. Kali ini, Dimas yang meninggalkan Reni. Dimas meninggalkan Reni demi masa depannya, tapi kali ini Dimas berkata pada dirinya sendiri bahwa - tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar