Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Senin, 09 Januari 2012

Kabut Pagi Pantai Selatan


Karya Linda Wulandari
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1


    Matahari telah berada di ufuk barat.Burung-burung pun telah kembali ke sarang mereka.Kini cahaya lampu lima watt menggantikan peran matahari di rumah yang bertembokkan gedhek dan beralaskan sebuah tanah peninggalan orang tuaku.Walaupun kecil,sederhana,dan tak layak huni namun disinilah kucurahkan kenangan-kenangan manis dan pahit bersama kedua orang tuaku.Aku ingat,bapak sering mengajariku nembang jawa,walaupun sulit,aku nyakin bisa.Hanya dalam 1 bulan aku telah bisa nembang jawa.Hal ini karena aku ingin bapak bangga kepadaku.Sebenarnya pekerjaan bapak bukan seorang nelayan.Ia hanyalah seniman lokal yang tak bisa mengembangkan keseniannya.Sedang ibu pandai bercerita.Ia selalu ceritakan kisah-kisah teladan penghantar adikku,aku,dan kedua kakakku tertidur.
              Sebenarnya aku kasihan dengan Ryan.Ia baru berumur enam bulan saat bapak terkena musibah di laut dan akhirnya meninggal. Satu tahun kemudian, ibu juga meninggalkannya. Akan tetapi,bukan menelantarkannnya, hanya saja ibu di panggil kehadapan Allah SWT.Kini usia Ryan telah menginjak lima tahun.Ia merupakan anak yang aktif dalam berbicara.Jika ia melihat atau mendengar ucapan orang yang belum ia mengerti, ia lalu bertanya kepadaku.Kadang kala,aku sampai tak bisa menjelaskan tentang apa yang ia pertanyakan. ”Kak, mengapa ibu pergi?Apa ibu sudah tak sayang lagi pada kita.”Tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi.Aku tertegun sesaat, karena aku bingung dengan apa yang akan aku katakan. Setelah berfikir aku jawab pertanyaannya dengan ragu-ragu.”Bukan begitu,hanya saja ia sekarang sudah ada di surga.”Ia tak menghiraukan jawabanku, ia teruskan bermain sendiri.Seakan-akan tak ada beban yang meresahkan hatinya.
Selepas sholat Magrib,aku lihat kak Dinda melamun.Tak biasanya ia melamun.Dalam benakku terlintas pertanyaan kepadanya,”Mengapa ia melamun?”.Setelah aku melihat adik, aku dekati kak Dinda.Kupegang tanganya lalu kuberkata,”Kak....Kak....Dinda ....Kak.......,tak baik selepas magrib melamun”.Walaupun sudah kupelankan suaraku,ia tetap saja terkejut.Nafasnya terenganh-engah dengan detak jantung yang tidak teratur.Setelah kak Dinda cukup tenang aku utarakan semmua yang ingin kukatakan kepadanya.”Kak, masalah apa yang sedang kakak hadapi?Cerita ama aku.”Tanyaku.”Semalam aku mimpi,bapak dan ibu pulang.Ia berpesan agar aku menjagamu dan Ryan.”Ucapnya dengan nada yang pelan dan nata yang mulai berkaca-kaca.Aku masih bingung dengan ucapannya.Bukannya itu memang sudah tugasnya.
Beberapa menit kemudian,ku dengar dekat suara pintu kamar kak Aldy ketika di buka.Saat kak Aldy berada di dekatku dan hendak ucapkan salam,kak Dinda santak memeluk erat kak Aldy dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.Kak Aldy menatap mata kak Dinda dan dengan senyum ia hapus air mata kak Dinda.”Mengapa kamu menangis?Apa yang sedang kau pikirkan?”Tanya kak Aldy penasaran.Kak Dinda terus menangis dan berkata,”Kak,jangan pergi.Aku takut terjadi sesuatu dengan kakak.”Klak Aldy sontak bertanya,”Apa yang kamu takutkan?”kak  Dinda mulai menjelaskan mimpinya kepada kak Aldy.Dengan senyum manis di bibirnya,kak Aldy berkata,”bukannya mimpi hanyalah bunga tidur?”kak Dinda yang tak mau kak Aldy pergi terus memberi alasan agar kak Aldi tak pergi. ”Pikiranku juga mengatakan itu, Kak! apalagi hatiku selalu berdebar ketika melihat hal ini.”Kata kak Dinda memelas.”Sudah-sudah,tak akan terjadi apa-apa dengan kakak.Kamu berdo’a saja agar hal ini tidak terjadi.”Ucap kak Aldy yang mangiringi dengan ucapan salam. Walaupun kak Dinda terlihat rela dengan kepergian kak Aldy, namun hatinya tak merelakan kak Aldy pergi melaut malam itu.
Malam semakin larut,kegelisahan masih saja menyerang hati kak Dinda.Sampai setiap detik hatinya berdetak begitu cepat.Ku telah mencoba segala cara agar kegelisahan hati kak Dinda  hilang.Namun cara yang ku coba tak berhasil.Aku berfikir sejenak,dan aku teringat pesan ibu.Jika hati mu gelisah,cobalah untuk berdzikir dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara ini berhasil,walaupun di hati kak Dinda masih saja ada kegelisahan.Lama-kelamaan kak Dinda pun tertidur.
Suara adzan subuh yang melangking tinggi,ku jadikan jam wekker untuk membangunkanku.Ku lihat kak Dinda masih tertidur pulas dengan Ryan. Jadi, aku tak berani membangunkannya. Aku berpikir setelah penat dengan masalah semalam kak Dinda pasti lelah.
Bersama Lina temanku yang juga bersekolah di SMP 3 Batu Bintang aku tembus kabut yang menyelimuti desaku. Desaku sendiri ada di tepi pantai Batu Permai dan jika bersekolah,aku harus melintasi hutan,sunggai dan perbukitan terjal.Walaupun jauh, aku tetap bersemangat untuk bersekolah. Hari-hari ku, aku lalui dengan riang dan gembira.
Teng.....Teng....Teng.... bel pulang berbunyi,aku dan Lina bergegas pulang.Setelah sampai di dekat sungai aku berkata kepada Lina,”lihat disini ada sungai baru,biasanya kan sungai air,namun disini sungai sampah.”Dengan wajah sedikit acuh,ia berkata padaku,ini kan ulah mereka.Kalau banjirpun mereka juga kan yang terkena.”Biar kapok,sampah dibuang ke sungai,hutan digunduli,dan cerobong pabrik mengepul setiap hari..
Aku heran,banyak sekali orang-orang mengumpul di rumah ku.Mereka seperti sedang antri beras murah yang biasanya dibagikan 6 bulan sekali oleh Pak RT.Kucoba mencari-cari tahu dengan melihat di sekeliling rumah.Aku terkejut melihat ibu-ibu yang keluar masuk dengan membawa ember.Bukan hanya itu yang mengejutkanku.Bendera kuning yang berkibar di tiang rumahkulah yang membuat hatiku sakit dan seperti di tusuk-tusuk dengan jarum pentul.Kakiku terasa lemas,dan aku terduduk di jalan depan rumah Mak Kem yang berada di samping rumahku.Tak kurasa air mataku telah jatuh mendahului perintah dati otakku.
Dari belakang, terasa ada yang memegangi pundakku. langkah Mak Kem, ia bangunkan aku dan mengajakku untuk ke rumahnya.Namun,aku menolak dan berkata. ”Mak tolong antarkan aku ke rumah saja,melewati para laki-laki dewasa dan bapak-bapak yang berada di depan rumahku.
Kain jarit panjang terlihat menutupi sesosok manusia yang terbujur kaku. Surat Yassin ku dengar, dilantunkan di sekeliling mayat itu.Aku duduk di samping mayat. Hatiku masih ragu untuk membuka kain jarit itu dan melihat wajahnya.
Setelah ku yakinkan diriku,ahkirnya ku buka perlahan-lahan jarit itu.”aaaaaa,.......!!!!!”Aku berteriak seketika.tenyata itu wajah kak Aldy.Air mata ku langsung jatuh dan kumenangis tersedu diatas mayat kak Aldy.”Mengapa kakak pergi begitu cepat? Mengapa?”. Mak Kem menenangkanku dan mengantarkanku ke kamar. Dari kamar ku mendengar takbir. Aku tahu, pasti kak Aldy sedang disholatkan. Tak lama kemudian Mak Kem bertanya  kepadaku. ”Kamu mau ikut ke pemakaman atau tidak?. ”Aku pun mengangguk kepada Mak Kem.
Jenazah kak Aldy di makamkan disisi makam Bapak. Tangisku tak henti-hentinya mengalir, malahan semakin bertambah deras. Seperti aliran sungai pada saat hujan deras. Setelah Kyai membacakan ayat-ayat yang tak ku mengertiapa makna ayat itu,jenazahpun  langsung di masukkan ke liang lahat,kemudian di tutupi dengan kayu, dan tanahpun menutupi mayat kak Aldy. Bunga-bunga 7 rupa, tak lupa ditaburkan di atas makam. Diujung-ujung makam diberi nisan.
Dari deru suara kaki pelayat,aku dengar orang-orang membicarakan kematian kak Aldy.Mereka bilang kematian kak Aldy tidaklah wajar,ada yang bilang kak Aldy dibawa Nyi Loro Kidul.Aku ingat,kak Aldy tidak percaya dan tak hadir dalam acara “Larung Sembonyo”minggu  lalu.Ketika mereka ucapkan kalau keluargaku dikutuk Nyi Loro Kidul,karena Bapakku mati tak wajar di tengah laut.
Berhari-hari,setelah kejadian itu kkak Dinda melamun. Aku tahu kak Dinda masih diderai kesedihan. Aku juga tahu,selama ini kak Aldylah yang menggantikan peran orang tua di keluarga kami. Setiap pagipun kabut-kabut selalu menyelimuti rumah kami.
Setelah beberapa bulan, sejak kematian kak Aldy.Tiba-tiba ada orang yang datang ke rumah dan menangis tersedu-sedu.Bersama Lina dan kak Dinda aku dengarkan ceritamorang itu. ”Maaf,....maaf...maaf.!! ”kata orang itu sambil berlutut dihadapan kami. Aku bangunkan orang itu dan bertanya. ”Apa yang anda lakukan? Sehingga anda memohon maaf kepada kami. ”Orang itu mengatakan” Akulah yang menjadi dalang dari kematian Bapak, dan Kakakmu, karena aku iri dengan hasil laut yang mereka dapat.Sehingga muncul angan-angan untuk membunuhnya. ”Hatiku sakit dan kesal dengannya. Aku tahu kemarahanku tak akan menyelesaikan masalah.Saat kak Dinda hendak menampar orang itu, aku berdiri menghalanginya. Sehingga yang terkena tamparan adalalh pipiku.”Pak anda telah kami maafkkan,tolong....,jangan ulangi perbuatan itu, Sekarang anda boleh meninggalkan rumah kecil kami.”
Setelah ia pergi aku tenangkan kak Dinda.”Tak usah kakak marah,karenna itu akan menambah masalah.”Kataku kepada kak Dinda.Kak Dinda diam sejenak dan berkata,”Aku kesal dengan orang itu,mengapa harus orang-orang yang kucintai yang ia bunuh. ”Aku sudah tidak bisa menenangkan kakak. ”Kataku terhadanya.
Setelah beberapa hari,saat kejadian itu,..kak Dinda udah bsa melupakan kejadian itu.Aku lega,semua masalah telah terselesaikan dengan baik.Kabut-kabut pagi di pantai selatan kini telah pergi meninggalkan rumah kecil kami.Menapak secerah harapan menanti di depan mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan