Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Senin, 12 Desember 2011

Pahit Itu Manis

Karya Reny Anggarwati
XII Akselerasi MAN Tulungagung 1



              Hari ini adalah hari yang menyibukkan bagiku, aku bakalan senang jika kesibukkan yang telah ku rencanakan berhasil. Dari malam hari tadi aku tidur lebih awal. Mataku terbuka setelah mendengar jam wekerku berdering dengan kencang, aku terbangun. Ku berjalan menuju kamar mandi, ku sikat gigiku yang baunya tak sanggup lagi aku cium. Sisi kanan dan kiri gigiku ku sikat dengan pelan, lalu aku mandi.
            Sekitar pukul 6 pagi aku telah siap untuk berangkat ke sekolah, tapi seperti biasa Ibu menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu. Ku lahap satu per satu, suap demi suap kali ini menu sarapan yang disediakan Ibu sangat membuatku puas. Aku keluar dari rumah sambil menenteng tasku yang berisi banyak sekali buku tulis, buku pelajaran belum lagi barang – barang nggak penting yang aku masukkan ke dalam tas, biasa mau pamer sama temen – temen. Ku masukkan tas ke dalam keranjang sepeda, ku cium tangan Ibu sebelum aku berangkat ke sekolah.
            “Aku berangkat dulu ya, bu.”
            “Hati – hati di jalan ya, Ibu buatkan roti nanti sepulang sekolah.” Seru Ibu.
            “SIP. Yang enak lo.” Kataku saat berdiri di samping sepedaku sambil acungkan jempol.
            Ku kayuh sepedaku keluar dari garasi rumah, Ibu melambailambaikan tangannya sambil melihatku dari kejauhan, biasa kebiasaan orang tua yang tak bisa hilang. Aku senang dengan perlakuan Ibu, walaupun tiap kali aku diolok – olok teman – teman sebagai anak Mama karena tak mandiri. Bukan aku mandiri ya, Ibu memang membantuku tapi apa itu artinya aku manja? Tidak kan? Namanya juga orang tua tentunya ingin anaknya bahagia bukan?
            Jarak sekolah dari rumah sekitar 4 kilometer, lumayan jauh sich. Memang kakiku merasa pegal untuk mengayuh sejauh itu, tak apa sich yang penting hatiku senang. Bret,,,, ah... kok nggak ngenakin banget sich? Rantai pakai acara putus segala lagi, bisa telat aku. Tak ada bengkel sepeda disekitar tempat dimana rantai sepedaku putus, terpaksa aku tuntun sepadaku, nanti juga ada orang yang menolongku. Aku hanya bisa berfikir positif.
            Jam telah menunjukkan pukul 6.45 pagi tapi aku masih berada di jalan. Tak ada orang yang menolongku, ya setidaknya teman yang satu sekolah denganku. Aku masih mrnuntun sepedaku, semakin  lama aku semakin besar kemungkinanku untuk telat. Dari rumah – rumah yang berjajar di jalan yang aku lewati belum juga aku temukan bengkel sepeda. Tepat jam 7 pagi aku sampai di awang depan gerbang sekolah, dan yang seperti aku duga, telat. Pak Satpam sudah berdiri di depan pintu dengan senyum mautnya yang sama sekali tak membuatku senang. Senyum yang biasa digunakan untuk mengabsen para murid yang telat, memasang muka dengan senyum masam bermodal buku catatan dan mencatat nama – nama anak terlambat. Pak Satpam akan menyerahkan ke ruang BP/BK dan selanjunnya pihak BK akan memberikan poin yang sesuai dengan berat pelanggaran.
            Pak Satpam memang mengizinkan para murid yang terlambat masuk ke lingkungan sekolah, tapi apa juga gunanya? Kami orang – orang yang telat telah kehilanggan jam pelajaran pertama sebagaai gantinya kami mendapatkan poin yang sesuai. Aku tak masu ke kelas, lebih baik aku duduk di kantin sambil minum es. Kalau ke kelas juga aku bakalan dapat bom atom dari Bu Nugroho. Ku tatap dengan tajam buku tulis matematikaku, ku buka lembar demi lembar hingga menemukan tulisanku semalam. Susah payah aku kerjakan PR Matematikaku semalam suntuk, berharap Bu Nugroho akan puas dengan kerja kerasku.
            Aku masuk kelas pada jam ke 2. Banyak teman sekelasku yang menegurku, mengejekku. Apa mau dikata dengan alasan mujarap apapun tetap sajakan aku telat?
            “Jam segini baru nyampek. Pulang gih sana.” Seru Galaksi dengan gaduh. Ih ngapain juga protes bukan sekolah dia juga. Pantas saja tak ada cewek yang memdekatinya galaknya serta cerewetnya minta ampun. Amit – amit juga aku punya IBU yang modelnya kayak itu bocah, walaupun sejujurnya Ibu juga cerewet. GALAKSI artinya galak sih.
            “Hahaha... nggak punya jam kali.” Sambung Nicho teman satu ganknya Galaksi.
            “Atau mungkin disuapin Mama? Hahaha.... dasar anak Mama.” Terus Satya.
            Bagiku terserah mereka mau bilang apa, suara – suara olokan itu hanya angin bagiku. Yang keluar begitu saja dari kupingku. Memang mereka anak orang kaya jadi berkata tak sopan juga tak masalah, toh orang tua mereka punya banyak duit. Aku duduk di bangkuku.
            “Anggar, kamu telat ya? Tumben banget lo.” Ucap Diba.
            “Sial aku.”
            “Jangan denger omongan mereka, bikin panas kuping saja.” Sambung Tyas
            “Aku nggak marah kok. Terserah mereka mau bilang apa, aku hanya meratapi nasibku yang kehilangan jam pertama dengan sia – sia.” Terangku.
            “Nggak masalah lagi, kan masih ada hari esok. Kamu pasti masih bisa menyusul keterlambatan kamu.” Kata Diba lagi.
            “Tapi sia – sia aku kerjakan PR Matematika semalam suntuk.”
            “Yang sabarlah, Nggar. Nanti juga dapat manisnya.” Kata Tyas dengan bijak.


            Sepulang sekolah aku masih harus menuntun sepedaku lagi.
            “Anggar, jadi beli tabloid kan? Kita sudah pesan, lo. Rugi kalau nggak diambil.” Ucap Putri.
            “Iya betul. Nanti kalau nggak cepet – cepet kesana diambil orang.” Sambung Afi.
            “Ah, sepedaku rantainya putus. Aku minta tolong ya! Titip punyaku sekalian.” Pintaku.
            “Putus? O.. pantas tadi kamu terlambat.” Kata Lara.
            “Iya gitu dech. Minta tolong ya.”
            “Iya beres kami bantu kok.” Terus Putri.
            Ih,, benar – benar sialnya aku, rencananya hari ini aku harus bersepeda dengan teman – teman sepulang sekolah untuk menggambil tabloid dan sekaligus jalan – jalan juga. Tapi apa boleh buat, aku tak ingin merepotkan teman – temanku lebih parah sebaiknya aku pulang agar sampai rumah tepat waktu. Aku berjalan menuju rumah sambil menuntun sepeda, matahari memang terasa terik, rasanya ingin sekali aku duduk dan bersantai di bawah pohon. Namun layaknya tak bisa, bisa – bisa kesorean sampai di rumah nanti.
            “Hahaha... sepedanya putus ya? Nanti juga pulang dipeluk Mama. Dasar anak Mama.” Ejek Galaksi yang melewatiku. Dasar anak nggak punya sopan santun, yang bisanya ngabisin duit orang tua. Aku hanya diam, tak ingin aku menjawab ataupun menantang ejekkannya, nanti kalau mulutnya capek juga diem sendiri. Emang hobbynya ngejek orang aja. Orang tuanya kaya bukan berarti bisa seenaknya saja kan? Kaya orang tuanya, anaknya nggak ada apa – apanya. Otaknya aja pakai dengkul.
            Aku tetap berjalan melawan terik matahari, haus yang ku rasakan. Langkah demi langkah aku lanjutkan dengan rasa haus di tenggorokan yang semakin mencekik. Tiba juga aku di rumah ku banting saja sepedaku dengan keras, hingga Kakak ngomel – ngomel.
            “Ih, anak perempuan juga kelakuannya kayak Tarzan aja.” Teriak Kakak.
            “Salahin sepeda tuh. Kakiku sudah pegel.” Ucapku lalu masuk ke rumah melewati garasi menuju dapur. Ku teguk air putih yang ada di kulkas, hauspun hilang. Ibu berdiri disebelahku.
            “Nggar, ada apa? Kamu kok teriak – teriak sama Kakakmu?” Tanya Ibu.
            “Sepeda. Rantainya putus, aku kehilangan jam pertamaku di sekolah, aku harus menuntunya ke sekolah.”
            “Makanlah.” Ucap Ibu dengan memberiku sepotong roti.
            Aku makan roti buatan Ibu, enak banget. Rasanya penatku hilang seketika.
            “Nggar, enak rotinya?” Tanya Ibu.
            “Enak.”
            “Lalu, kamu coba yang ini.” Ucap Ibu dengan memberiku terigu yang ada di dalam mangkuk.
            “Nggak mau.”
            “Kalau ini?” Ucap Ibu lagi dengan memberiku margarin.
            “Yang pasti, margarin itu bikin tenggorokanku tambah kering.” Ucapku.
            “Kamu harus mencobanya, terigu, margarin memang tak enak. Tapi setelah dicampur dengan gula, telur maka akan jadi roti yang enak. Sama seperti hal yang kamu dapatkan hari ini. Kepahitanmu akan jadi manis suatu hati nanti.” Ucap Ibu dengan sabar.
            Benar maksud Ibu asalkan aku sabar, pasti aku akan mendapatkan kemanisan di hari yang akan datang. Aku saja yang salah mengartikan hal yang aku alami hari ini, aku teringat pada istilah “habis manis terbitlah terang” dan “tak selamanya pahit itu masam”. Kata – kata yang diucapkan Ibu saat aku patah semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan