Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Senin, 12 Desember 2011

Jati Diri Kudus

Karya Oky Ade
XII Akselerasi MAN Tulungagung 1


          Gema adzan membangunkan Ian dari tidurnya. Dengan penuh rasa kantuk ia bangun dan mandi, tak lupa ia sholat Subuh. Hari ini libur nasional, sekolah pun diliburkan. Namun Ian tetap menyelesaikan pekerjaannya membersihkan rumah dan mencuci baju. “Tumben rajin bersih – bersih”, kata sang ibu menggoda. “hehe,  gak pa pa kok bu, lagi pengen adja, biar cepet selesai jadi bisa istirahat plus nonton tv lebih lama.”, jawab Ian sambil malu – malu.
            Saat jam mendekati jam 06.00 pagi, Ian bergegas semuanya dan sekejap kemudian menyalakan tv. “, Ah, tepat waktu, semoga tak ketinggalan.” , ungkapnya dalam hati. Ternyata Ian sengaja menyelesaikan pekerjaannya agar tak ketinggalan acara misa Natal yang disiarkan salah satu stasiun tv, ya, hari itu memang libur Natal. Saat acara yang disiarkan dari Gereja Santo Petrus Vatikan itu dimulai, Ian dengan penuh kekhidmatan duduk bak patung mengikuti acara itu sampai selesai. Tak sedikitpun ia bergeming dari acara itu, memang, Ian merupakan seorang mslim yang sangat tertarik dengan berbagai ritual agama lain, termasuk Katholik. “waw, luar biasa khidmat dan indah misa Natal tadi, alangkah nikmatnya hidup sebagai umat Katolik.”, gumamnya dalam hati. Setelah acara itu selesai, Ian pun kembali menyelesaikan tugas – tugasnya.
            Ian sangat berbeda dengan teman temannya. Ia tipe anak yang pendiam, namun ia sangat mudah mendapat teman baru, sayangnya, Ian jarang sekali berhubungan dengan teman lamanya di SD maupun SMP. Ian juga termasuk anak yang sangat aktif di dunia maya. Setiap kali ada celah, dimanfaatkannya untuk situs jejaring sosial serta artikel – artikel tentang banyak hal. Dari sekian artikel itu, artikel mengenai agama Katoliklah yang paling banyak dicarinya. Setelah mendapatkannya, ia baca teliti artikel – artikel itu.
            “Hufft, hari yang melelahkan.” Ungkap Ian setelah sampai di rumah. Ia pun duduk melamun sembari beristirahat. “Huh, sebenarnya apa yang terjadi padaku. Siapakah aku ini? Muslimkah? Tetapi, mengapa hatiku tak bisa merasakan Islam. Mengapa jiwaku terbelah dengan ragaku . seolah – olah,  ragaku ini Islam namun jiwaku ini Katolik. Tuhan, berikanlah aku petnjukmu. Jika Islam itu benar, maka kuatkanlah aku, jika Katoliklah yang kudus, sinarilah cahaya kudus itu padaku.” Ungkapnya sambil melamun. Hari demi hari dilaluinya dengan penuh kebimbangan. Disaat ia sholat, sama sekali ia tidak bisa khusyuk. Yang melayang di fikirannya hanyalah Gereja, Kudus dan Yesus.
            Ian sebenarnya sangat asing dengan Katolik. Sejak kecil keluarganya berpegang teguh pada ajaran Islam. Tak tanggung – tanggung, sejak kecil ia telah belajar agama Islam di TPQ  di jalur pendidikan formal pun, ia tercatat di Madrasah Aliyah. Namun, sungguh tidak disangka, didasari oleh landasan ilmu agama yang kuat, justru membuat Ian menghadapi konflik dalam jiwanya. Ketika harus menghadapi hal ini terus menerus, membuat kondisi fisiknya anjlok. Ia sendiri tidak pernah membicarakan masalah ini dengan siapapun, karena ia merasa orang justru akan memojokkannya sebagai Islam KTP. Hingga suatu hari ia melihat iklan mengenai sebuah seminar Islam yang menarik hatinya. Ia pun berniat mengunjungi seminar itu. “seminar ini jalan penentu, apakah Islam atau Katolik. Jati diri kudus ini”, ungkapnya.
            Beberapa hari kemudian, ia mendatangi seminar itu. Kebetulan saat itu seminar itu. Kebetulan saat itu membahas mengenai kehidupan beragama dan mengundang dua narasumber. Yang satu merupakan seorang pemuda sukses muslim yang menjadi seorang Katolik. Dan yang satu lagi merupakan mantan Romo Pendeta Katolik yang menjadi seorang Muslim. Kemudian terjadi adu argumen diantara dua narasumber  tersebut. Dari adu argumen tersebut terlihat sang pemuda memberi argumen yang sulit  diterima akal sehat , seperti sakit berkepanjangan, lalu setelah menjadi seorang Katolik  sembuh. Sedangkan mantan pendeta itu membari argumen  yang meyakinkan dan menunjukkan sepenuh hati bahwa Isalm itu benar, Katolik hanya bagian dari Islam.

            “Ahh, kenapa aku menjadi tambah bingung?”, ungkapnya meninggalkan seminar itu. Di tengah perjalanan pulang ia melintasi gereja Katolik, saat melihat ke arah gereja betapa terkejutnya ia melihat seorang ulama di dalam gereja,”untuk apa ustadz itu ke gereja???”,pikirnya dalam hati. Tak berapa lama kemudian sang ustadz pun keluar dan langsung dicegat Ian.”apa yang anda lakukan di gereja Ustadz?” Tanya Ian.” aku diajak seorang umat masuk ke gereja, tak kusangka, di dalam au justru hendak dipermalukan dengan 22 buah simalakama, alhamdulillah, mampu kupatahkan simalakama itu sebelum termakan. Lalu kucoba membuka mata hati mereka dengan satu kunci.” Jawab Ustadz. “kunci apa itu ustadz??” tanya Ian lagi, “itulah kunci masuk surga. Pendeta itupun terbuka  hatinya dan dengan jujur mengucapkan syahadat.” Terang ustadz. “alhamdulillah....!!!” . ian pun langsung bersujud di hadapan sang ustadz dan bertaubat. “itulah jati diri kudus yang kucari, terima kasih Tuhan!!!”, ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan