Karya Zaenal Fanani
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1
1992, Dari sebuah keluarga bertambahlah satu anggota keluarga baru. Ia anak laki – laki ke empat dari empat bersaudara, ia mendapatkan kasih sayang yang berlebihan dari saluruh keluarganya. Sehingga ia tumbuh besar menjadi anak manja dan cengeng, jika ia sudah meminta sesuatu yang diinginkannya harus dipenuhi karena jika tidak deipenuhi ia akan menangis dan merusak apa yang ada disekitarnya sebelum diberikan apa yang ia inginkan.
Ketika ia sudah masuk ke taman kanak-kanak ia selalu ingin dihantarkan dan ditunggu sampai pulang, jika tidak begitu ia tidak mau sekolah dan saat masuk sekolah dasar ia sudah berani berangkat naik sepeda sendiri , tetapi dia masih memiliki sifat cengeng dan pemalu.
Ibunya bekerja sebagai pedagang ikan di pasar dan ayahnya bercocok tanam di sawah. Pada saat ia kelas 3 SD ayahnya sakit tetapi tidak di rawat di rumah sakit dan hanya di rawat dirumah karena tidak memiliki cukup biaya, tidak lama kemudian ibunya juga jatuh sakit, beliau sakit hepertensi hingga stroke,tidak dapat bergerak, yang mengurusi mereka berdua adalah kakak perempuannya, kedua kakak laki – lakinya merantau ke papua dan ketika itulah si bungsu merasakan sedih apabila terjadi apa – apa dengan ibunya, karena sudah setengah tahun ibunya sakit tidak dapat bergerak.
Iapun mulai dewasa dan menyadari semua kesalahannya dimasa lalu, ia mau membantu orang tuanya hingga keadaan ibunya membaik, secara bertahap ibunya mulai normal, akhirnya sembuh dan ibunya dapat bekerja seperti dulu, menyayanginya setiap hari. Semenjak sembuh dari sakit, jika ibunya ingin pergi kepasar maka beliau diantarkan oleh kakaknya, si bungsu ingin sekali membahagiakan ibunya, tetapi ia tak tau harus bagaimana agar ibunya bahagia dan bangga padanya, si bungsu rajin pergi ke madrasah diniyah untuk belajar mengaji, ia juga ingin mengantar ibunya ke pasar, tetapi ibunya tidak memperbolehkan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ibunya berkata, “nanti saja jika kamu sudah besar”. Si bungsu pun sangat senang mendegar kata – kata ibunya.
Si bungsu mempuyai cita – cita untuk naik haji bersama kedua orang tuanya dan membelikan banyak hal agar ibunya bisa selalu senang, namun harapan itu sirna ketika ia kelas VII karena ibunya meninggal, hatinya sangat terpukul karena harapan untuk sang ibu belum tercapai, hari – harinya sunyi tanpa sang ibu, ini berlangsung sampai ia masuk ke SMA, lama semakin lama ia merasakan duka yang lebih dalam, karena ia sadar dengan kesalahan terbesar dalam hidupnya, yaitu menyakiti hati sang ibu. si bungsu adalah anak yang suka bercanda, hingga teman barunya di sekolah tidak mengetahui apa yang terjadi padanya, kecuali seorang gadis yang dekat dengan dia, Dialah yang menemani dan mengisi hari- hari sang bungsu walaupun terkadang mereka salah paham dan bertengkar tetapi walaupun sibungsu telah menemukan teman yang dekat dan sangat mengerti dengan apa yang terjadi padanya ia tetap meraskan hampa dan rindu akan kasih sayang ibunya yang telah meningal dunia. Ia berharap orang terdekatnya bisa menjadi pengganti ibu dalam hidupnya
Ketika ia mulai naik kekelas tiga hatinya semakin merasa rindu akan kasih sayang ibunya tiap saat tiap malam ia selalu meratapii kerinduanya pada sang ibunya dan saat ia merasakan semua itu ia pergi ke makamnya dan mengajak berbicara dengan sang ibu walaupun hanya batu nisan yang ia ajak bicara dan hanya doalah yang kini bisa diberikan pada sang ibunya tetapi dalam sepinya ia selalu di temani temannya yang slalu mengerti akan keadaanya hanya itulah yang membuat hatinya terhibur, dan orang yang sangat dekat dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar