Karya Rizka
MAN Tulungagung 1
Ku pandangi tanganku yang sudah mulai gemetaran, semakin lama gemetaran itu semakin kencang, hingga membuat jantungku pun ikut berdenyut kencang.Kaki ini sudah lelah. Aku tak bisa lagi berjalan. Aku terpana pada satu hal yang membuatku terheran-heran. Aku melihat burung di atas pohon itu, begitu seriusnya mereka betatapan. Hingga salah satu sayap dari burung itu menerjang burung yang satunya. Kasihan sekali mereka, harus bertengkar , harus mengorbankan persahabatan mereka. tapi setidaknya mereka tidak selamanya seperti itu, akal mereka , naluri mereka tak sehina itu, ketika salah satu membutuhkan untuk mencari makan, mereka pasti saling berbaikan.
Andaikata aku terlahir menjadi seorang burung itu, pasti tak harus ku hadapi masalahku ini sekarang. Semua persoalan ini menjerat leherku, hingga pernafasanku pun ikut menyempit karena tali itu. Ahh,,, syukuri saja apa yang di berikan Allah. Jangan seperti itu, terima semuanya dengan senyum, ini Cuma sebuah ujian untuk melihat seberapa tingkatanmu. (kataku dalam hati)
Namaku Elly .Aku terlahir sebagai anak terakhir, namun aku tak pernah mengerti, bagaimana rasanya kelembutan tangan ibu, bagaimana masakan ibu, bagaimana ayunan tangan ibu, atau bahkan timangan ibu. Semua sama sekali tidak pernah aku jumpai. Sering dalam pikiranku terbayang wajah ibuku, apa dia cantik, apa dia manis seperti aku, apa dia punya hidung sama sepertiku, apa dia juga punya bibir yang tipis sepertiku. Tak ku dapati sebuah foto pun yang tertulis nama ibu. Ini sudah ku cari dimana-mana, ini sudah aku tanyakan, tapi aku tak mendapat jawaban apapun. Neneku, yang menjadi ibu pengganti bagiku hanya menunjukan wajah marahnya ketika aku menanyakan itu. Aku tak berani lagi menanyakan ibuku dimana, dia sudah memarahiku habis-habisan. Nenek malah bilang “ aku kamu anggap apa, jangan mencari orang yang sudah tak ada.!!!” Tapi, tapi, tapi… apa maksudnya orang yang sudah tidak ada?? Terus apa maksud dari air mata yang berlinang setelah dia mengatakan itu ? . Setelah peristiwa menyeramkan itu, aku pun di gendong ayahku, dan di bawa jalan-jalan agar aku tak menangis.
Dua hari sebelum peristiwa menyeramkan itu, sempat aku memasuki kamar nenek secara diam-diam, aku mengendap-ngendap secara perlahan dan aku membuka sebuah peti yang berada di bawah tempat tidur nenek. Aku buka perlahan, hingga suara geritanya tak terdengar, ketika aku mulai membuka sebagian, tiba-tiba geritan dari engselnya semakin mengeras, dan nenek pun tahu. Aku kembali menutup kotak itu dan langsung pergi.
Hmmm… sekarang aku harus mengingat-ingat apa yang ada di dalamnya. Ku pandangi langit yang ada di atasku, meski sekarang ini warnanya tak secerah yang tadi. aku mengingat, mengingat dan mengingat. Ku remas daun kering yang ku pegang, ku gesekan kakiku, hingga guratan tanah terlihat jelas. aku mengingat apa yang ada di dalam kotak itu, atau mungkin ada foto ibu? Ahh… bukan. Atau ada alamat dimana ibu berada? Ternyata bukan juga, alamat harusnya ada nama jalan, nama desa, atau sekedar nomor rumah. Tapi itu tak ada. Sebentar.. aku melihat sebuah nama, Suratmi. Di situ sebuah nama dalam kertas berukuran 15 x 5 cm, dan Nampak noda-noda hitam menempel di kertas yang memang sudah kusam itu. Tak jelas apa yang ada dalam kertas itu, karena tinta bolpoinya pun mulai menyamar. Yang ada hanya nama rumah sakit bersalin. Mungkin itu adalah surat keterangan bersalin milik ibuku.. wahhh,,, senangnya hatiku, ternyata aku pun mempunyai surat kelahiran, setelah lama sekali aku tak melihat surat-surat keterangan tentang aku dan ibuku, ku hentakan kakiku ke tanah, ku putar-putar badanku dan menari-nari kecil di sebelah pohon besar. Aku merasa burung-burung yang berkicau adalah nyanyian yang bersorak-sorai melihatku gembira, dedaunan yang jatuh adalah sebuah tepuk tangan yang berhamburan memberi selamat padaku, bahkan angin yang semilir-semilir, ku anggap sebagai melodi yang mengiringi sang burung bernyanyi. Aku pun berlari kesana ke mari.
Dan tiba-tiba… langkahku berhenti di sebuah temapat. Aku terperanga melihat tulisan di tempat itu, sebuah nama terpampang jelas. Dan nama itu taka sing di daftar nama-nama orang-orang yang ku sayangi. Seketika itu juga semua berubah. Bagaikan mega mendung yang menyigapku, aku terdiam seribu bahasa. Ku eja sedikit- demi sedikit nama itu, karena memang aku terlalu gugup untuk membaca secara langsung. S-U-R-A-T-M-I…..???? bukankah itu nama,,, nama… ibuku?? Dan… binti, Somad, bukankah itu nama kakeku yang sudah meninggal???? Apa maksud semua ini?? Nama ibuku terpampang di sebuah nisan? Apa itu salah tulis, apa yang aku tak bisa membaca, ,, ahhh… tidak mungkin… tidak mungkin……………….. jadi selama ini, neneku , ayahku, tidak member tahukan segalanya tentang ibuku karena ini? Apakah aku harus mengetahui semuanya dengan cara seperti ini?. Aku pun lantas berlari sambil menangis, aku berlaritanpa arah, brung-burung yang berkicau itu pasti sekarang sedang menertawakanku, karena air mata ini, ahhh… aku malu, aku sedih, aku marah…. Ku hentikan lariku, karena memang kakiku sudah sangat lelah, aku sudah 2 hari tak pulang dan tidur di rumah tetanggaku, memang dia sangat baik, oleh karena itu pula aku percaya bahwa dia akan membiarkanku di rumahnya tanpa ada seorang pun yang tahu. Namun akankah pencarianku berakhir seperti ini? Malang sekali nasibku,,,
Tiba-tiba, ada tangan hangat datang menghampiri pundaku, bahkan harum parfumnya pun begitu kelem, aku merasa nyaman beradadi sampingnya, meski aku belum melihat siapa dia, aku pun mencoba melihat ke belakang. Namun, tak ada siapa pun.. aku kecewa, aku kira itu ibu, namun aku harus terima, ibu telah tiada. Saat ku kembalikan pandanganku ke depan, betapa terkejutnya aku, melihat sosok wanita di depanku, lantas di amemeluku dengan menangis, dia meminta maaf, dia memanggilku nak…. Sayang… cintaku… siapa dia,lalu munculah ayahku, neneku dan warga desa, mereka tersenyum dan terharu, ada apa ini?? Aku kebingungan… dan ayahku berkata… dia ibumu nak…. Dialah ibumu… maafkan ayah telah menyembunyikan identitas ibumu selama ini, dia bekerja sebagai karyawan di perkantoran korea, dan kami sejak kamu berumur lima bulan , kami telah bercerai, maafkan ayah nak,… aku senang bukan kepalang, ternyata ibuku masih ada…. Sekarang aku baru sadar, tahun di nisan itu, adalah 1989,sedangkan aku lahir tahun 1999…. Sekarang aku pulang dengan ibuku, ku peluk terus dia hingga di rumah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar