Karya: Zulfa Uli Nikmah
Kelas X-B
Angin semilir sepoi,
Udara terasa dingin,
Pepohonan basah karena embun,
Ketika kubangun dari tidurku, hamparan dingin masuk ke suqma serta tulang-tulangku. Segera kuambil air wudlu, kubaringkan sajadahku dan kulaksanakan tahajjud 2 rakaat. Dalam termangu, kupanjatkan do’a, agar hari ini menjadi hari yang lebih baik dari pada hari kemarin.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar” Azan subuh telah berkumandang, para santri segera mengambil air wudlu dan menuju kemasjid.
“Zahrifa, kemarin aku dengar abah sama umi memilih kamu untuk study kilat kepondok pesantren HABIBURRAHMAN dari santri putri, sedangkan santri putra kalau tidak salah Azmi.”
“Apa?! Pondok itu kan hanya boleh menggunakan dua bahasa, Arab dan Inggris. Aku bukan ahlinya li, mungkin kamu salah dengar.”
Jawabku kepada Layli, namun aku tidak menghiraukannya karena rasanya itu tidak mungkin. Akupun segera menuju shaf paling depan.
Kini, pagi telah tiba, aku berangkat sekolah dengan Salma temanku tepatnya ini tidak jauh dari pondokku. Kami semua berangkat dengan jalan kaki begitupun dengan santri putra. Ketika bel berbunyi aku segera masuk kekelas. Pelajaran pertama hari ini adalah Aqidah Akhlaq, guruku menerangkan tentang indahnya syukur dan perlunya jalan kehidupan yang harus diperjuangkan untuk mencapai syukur.
Subhanallah!!! Tanpa tersadari bahwa sebenarnya penyebab kemalasan adalah kurangnya rasa syukur.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, “Alhamdulilah tiba saatnya kita mengahiri pelajaran, semoga ilmu yang kita peroleh bermanfaat.”
Sungguh bel yang dalam maknanya. Ketua kelas segera memimpin do’a, dan semua bergegas pulang. Ketika dijalan aku bertemu Azmi, sungguh hal yang menyenangkan bila santri putra bertemu dengan santri putri karena keduanya dilarang untuk berkomunikasi.
Dengan agak malu-malu Azmi menemuiku “Ada apa Az ??”
“Begini Zahrifa, kemarin aku diberi amanat abah dan umi untuk memberitahumu tentang study kilat kepondok lain, dari itu kita akan dilatih bahasa Arab dan Inggris untuk bekal kesana.”
“Sunhanallah! Kenapa abah dan umi memilihku, padahal Maria lebih baik dari pada aku.”
“Sudah dulu ya fa, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” ya Allah terimakasih atas kepercaan ini, semoga aku bisa menjadi yang terbaik. Study kilat memang tantangan untukku, jika aku berhasil aku bisa mondok 3 tahun tanpa biaya dan itu adalah impian sejak dulu.
Ketika aku berangkat untuk study kilat, berat rasanya meninggalkan teman-temanku meskipun hanya untuk satu minggu. Sekolahku untuk sementara aku hentikan. Aku berdo’a semoga aku bisa menjadi yang terbaik disana. Taman-temanku turut mendo’akanku. Salma, sahabat karibku meneteskan air mata, sungguh teman yang setia.
Kini aku sampai ditujuan, kubuka pintu mobil abah bermerek “MERSEDES” yang masih mengkilat, dan ternyata HABIBURRAHMAN adalah tempatnya. Benar kata laili ini adalah pesantren Habiburrahman. Ketika hari pertama dimulai, aku disuruh maju kedepan untuk menerangkan indahnya islam menggunakan bahasa Arab. Kucoba tenangkan diriku dan semua yang diajarkan umi kepadaku masih tersimpan dalam memoriku, kukerahkan semua tenagaku, kutambahkan dalil yang menguatkan ceritaku. Ketika kututup dengan salam tepuk tangan terdengar dengan keras. Rasanya bagai air tenang yang ada dalam hatiku dan terasa lega.
Hati-hati terus kulalui dengan semangat juang yang membara. Tak terasa tujuh hari telah berlalu. Kini aku akan kembali kepondok “AT-TAHRIM”. Aku berharap semoga aku dapat menjadi juara dalam study kilat.
Sore hari, setelah aku sampai dipondok kuceritakan semua pengalaman dan kerasnya arus yang kutempuh dalam study kilat di Habiburrahman.
Malam hari, setelah pulang diniah aku mendapat surat dari umi.
“Zahrifa, bukalah surat ini nak.”
“Surat apa ini umi”, ketika kubuka ternyata isinya adalah, bahwa aku lulus dalam study kilat kemarin.
“Rabbi au zi’ni an asykura nikmatakallati an am’ta alaiyya wangala walidayya waan a’mala sholihan tardhoha wa adqilni birohmatikafingibadikas shalihin.” Sujud syukur kulaksanakan, rasanya seperti dunia milik sendiri, dan ternyata syukur adalah hidup merdeka. Tanpa syukur hidup akan serba kurang. Kini, kupahat syukur dalam sujudku.
Semoga 3 tahun di habiburrahman menjadikanku lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar