Karya Arta Lavista
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1
Semua berawal dari kehidupan baru ku di tempat ini, dimana aku bisa merasakan kehangatan bersama orang-orang yang ku sayangi, ibuku dan saudara-saudara yang mengasihi ku.
Rasanya sangat jauh berbeda saat aku hidup di tempat yang sebelumnya ku tinggali, aku tak dapat merasakan kebebasan dan kebahagiaan seperti saat ini.
Dulu orang tua ku menitipkan ku kepada bibi ku. Hampir lebih dari 6 tahun aku hidup mandiri tanpa orang tua ku. Rasanya sedih ketika melihat teman-teman sebayaku hidup bahagia bersama orang tuanya.
Memang ini semua bukan keinginan dari orang tua ku, namun keadaanlah yang membuat mereka memilih jalan ini. Dan akhirnya pun kini aku bisa kembali berkumpul bersama orang tua ku.
Disini ku lanjutkan pendidikan ku di sebuah sekolah yang tak jauh dari tempat tinggal ku.
Sebelum hari petama ku bersekolah, di rumah aku hanya melakukan kegiatan yang sama namun lebih menyanangkan dari yang biasanya.
Saat pagi hari, ketika awal ku buka mata, ku lakukan kewajiban utama ku yaitu sholat subuh, sebisa mungkin aku tidak meninggalkan kewajiban yang menjadi pengkokoh tiang agama ku.
Setelah sholat subuh terdengar suara serak paruh baya memanggil nama ku,
“Musa….! Cepat bangun, matahari sudah tinggi”
Ternyata suara ibukulah yang mengiraku belum terbangun dari tidurku.
Seketika itu ku sahut panggilan ibu “ya bu….! Aku sudah bangun”
Bergegaslah langkahku menuju kamar mandi dengan handuk dipundak ku.
Ketika mandi gumaman ibu yang lirih terdengar dari dalam kamar mandi “setidaknya setelah bangun tidur bantu-bantu pekerjaan rumah dulu, baru mandi”
Sebenarnya ucapan ibu terdengar jelas ditelingaku namun aku tidak menggubrisnya.
Segera saja ku selesaikan kegiatan ku di dalam kamar mandi, dan bersiap-siap untuk segera berangkat ke sekolah.
Jam tangan ku menunjukan pukul 06.30,
Ku ucapkan salam sambil berlari menuju keluar rumah
“Assalamualaikum,, aku berangkat bu…!”
“Loh… loh…, kenapa kok nggak sarapan dulu?” Tanya ibu sambil berteriak
“Tidak bu, aku sudah kesiangan” sahutku
“Ya sudah hati-hati, jangan lupa sarapan disekolah ya” tambah ibu mengingatkan ku
“Iya bu..!” jawab ku sambil melambaikan tangan ku.
Hari ini kegiatan ku disekolah berjalan dengan lancar, di sekolah aku bertemu dengan banyak teman baru yang menyenangkan, hingga jam pun mulai menunjukan angka 1 dan matahari semakin terasa terik.
Terdengar suara bel yang berbunyi nyaring dan menggema keseluruh ruang di sekolah, tanda berakhirnya pelajaran hari ini.
Aku pun berjalan menuju keluar kelas bersama teman baru ku yang bernama Tofa.
Tofa adalah seorang anak yang tinggal di panti asuhan yang letaknya ternyata tak jauh dari rumah ku, Tofa adalah seorang anak yatim, ibunya bekerja di Kalimantan namun jarang memberi kabar bahkan tak pernah pulang.
Selama ini Tofa tinggal bersama neneknya, hingga neneknya sekarang sering sakit-sakitan.
Tofa pun memutuskan untuk tinggal dipanti asuhan, karna dia tak ingin merepotkan neneknya dan saudara-saudaranya.
Kami berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah, diperjalanan ketika kami pulang Tofa bercerita banyak tentang kehidupannya selama ini, dia sering kali bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhannya. Dia bekerja menjual Koran di pagi hari sebelum berangkat sekolah dan sepulang sekolah.
Sebenarnya jika dia mau, dia bisa meminta uang pada nenek atau pun pamannya, namun Tofa malu dan tidak ingin menyusahkan orang lain.
Dia berusaha untuk menjadi orang yang berguna dan mandiri meski tanpa ditemani kasih saying kedua orang tua.
“aku juga ingin menjalani hidup sama seperti anak-anak sebaya ku Mus,,
Seperti kamu dan teman-teman yang lainnya, tapi aku menyadari jalan hidup ku yang sudah di tentukan Allah ini, aku tetap bersyukur dan menerima semua ini dengan iklas meski hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua ku”
Ujar Tofa dengan wajah memelas
“sabar ya… Tof, mungkin Allah merencanakan sesuatu di balik kesulitan mu ini”
Ucap ku dengan tujuan menguatkannya
Tanpa terasa aku sudah berada di depan gang rumah ku,
“nggak terasa ternyata sudah hampir sampai rumah ku, mampir dulu yuk!!”
Kata ku kepada Tofa
“tidak usah Mus, aku langsung pulang saja, aku masih punya banyak tanggungan di pondok,, kapan-kapan saja ya” dengan mengumbar senyum polosnya
“oke, main lah kerumah ku jika besok senggang” ucapku sambil berjalan menjauh dari Tofa
Aku berlari menuju rumah, dari kejauhan terlihat ibu di teras sedang membungkus dagangan yang akan di jual nanti sore.
“Assalamualaikum, aku pulang bu”
“Walaikumsalam, sudah pulang?? Cepat ganti baju mu lalu makan ya” sahut ibu setelah mendengar salam ku
“iya bu….!” Balas ku
Aku pun masuk kamar dan mengganti baju seragam ku dengan kaos dan celana pendek.
Ku baringkan tubuhku di atas tempat tidur ku, masih teringat dipikiran ku tentang jalan hidup yang selama ini telah dijalani oleh Tofa betapa sulit dan beratnya.
Tak lama kemudian aku beranjak dari tempat ku berbaring, dan aku pun pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Kulaksanakan sholat dhuhur, dalam sholatku aku kusyukkan semua doa-doa ku kepada Allah
“Ya Allah ampuni segala kekilafan ku selama ini, dan karna aku tidak pernah bersyukur atas nikmat yang selama ini telah Engkau berikan, aku menyadari betapa masih banyaknya hambaMu yang kurang beruntung dalam menjalani hidup ini,
Limpahkanlah segala nikmatmu pada hambamu yang kurang pandai mensyukuri nikmat mu ya Allah, dan berikan lah mereka yang kurang beruntung menjalani hidup ini kemudahan dalam segala urusannya, Amin…”
Selesai sholat ku bantu ibu yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya di depan rumah.
Dan hari ini ada satu hal yang bisa ku pelajari, sekecil apa pun nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepada kita, maka kita harus pandai-pandai untuk mensyukuri nya dan dalam hidup ini segala rencana yang telah di atur oleh sang pencipta memiliki tujuan yang sebenarnya baik pula untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar