Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Rabu, 04 Januari 2012

BUKAN SEORANG PUTRI


Karya Diah Ayu Puspita sari
Kelas XII IPA 1
MAN Tulungagung 1


     Siang itu tak seperti biasanya.Langit berawan,matahari enggan menampakkan dirinya. Hawa panaspun berubah menjadi sedikit dingin.Sosok wanita paruh baya berjalan menuju pematang sawah membawa rantang dan sebotol air minum.
    Juminten biasanya warga kampung memanggilnya.Ia adalah kembang desa.”Assalamu’alaikum,ibu,bapak saatnya makan...he he he he he !”, tawa Juminten.”Juminten. Juminten! ayo pulang ........cepat !”, suara seorang lelaki dengan tergopoh-gopoh datang menghampiri Juminten dan keluarganya yang sedang melepas lelah dengan beristirahat dan makan bersama di gubuk tengah sawah. Lelaki itu adalah Pak Lurah.
    Dengan cepat-cepat dan amat khawatir Juminten berlari menuju rumahnya disusul oleh ayah dan ibunya. Sesampainya di rumah, ternyata barang-barangnya telah berada di depan rumah. Hati Juminten teriris-iris saat seseorang bertubuh kekar membentaknya dan berkata ”Cepat kau pergi dari sini! Rumah ini beserta tanahnya akan segera dijual atau kau menikah dengan Kanjeng Sepuh Joyodingrat !!!”.
    Juminten bingung, kepalanya pening. ”ndok...jangan!” ujar ibu. Akhirnya tanpa berfikir panjang ia mengambil keputusan yang amat mengejutkan untuk semua pihak. ”Aku terima tawaran itu, namun asalkan orangtuaku janganlah engkau telantarkan..! aku tak mau melihat mereka menderita!”, ucap Juminten sambil terisak-isak menangis. ”Baik, akan aku sampaikan pada Demang. Akan ku masukkan kembali barang-barangmu!”, kata orang yang  bertubuh kekar itu. Selepas kepergian orang-orang suruhan Demang yang menagih hutang dan sewa rumah. Dia lemas, tak berdaya. Dibenaknya hanya ada fikiran bagaimana agar tidak menikah dengan Demang karena ia sudah beristri 6. Ia pingsan dan seketika di bopong oleh ayahnya juga tetangganya yang melihat kejadian tersebut. Sungguh Demang yang keji…!!!.
    Keesokan harinya dengan dengan suasana tak seperti biasanya. Suasana amat sangat berbeda. Tak ada lagi keceriaan di wajah Juminten. Yang ada hanya lesu, lemas dan bagai tak semangat hidup. Juminten duduk di bawah pohon kelapa dekat sawah yang di garap ibunya. Ia tak henti-hentinya memikirkan hal itu. Tiba-tiba seperti ada suara kaki berjalan menujunya. Dengan was-was Juminten seketika mengambil sebongkah rekahan kayu di dekatnya.
    Ternyata yang datang seorang pria tampan. ”Jum, apakah engkau masih ingat padaku?? Kebetulan aku sedang berlibur ke rumah Paman, jadi aku sempatkan untuk jalan-jalan. Dan aku melihatmu di sini. Sedang apa gerangan dirimu ?”, tanya pemuda itu. Juminten bingung dibuatnya .
“Kamu siapa ?aku lupa ! Sumpah...!”, kata Juminten. “Aku Jarwo anak bu Suketi, yang pindah 18 tahun yang lalu. Temanmu bermain kecil dahulu. Tak ingatkah kau saat kita memancing bersama?. Aku benar-benar rindu kampung ini, dan sejak pindah aku tak tenang dan tentram batinku. Di kota tidak seperti desa. Di kota teman-temanku hanya memandang uang dan derajat. Sudah ingatkah kau ??”, ujar Jarwo. ”Aku ingat... engkaukah yang dahulu pernah mengompol itu?haaa ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...............”, Juminten tertawa geli. Dan Jarwopun menimpali dengan senyuman pula. ”Lalu kenapa kau di sini ? Seperti malang saja nasibmu ini !hiiiiiiii hi hi hi”, Jarwo kembali bertanya tanpa sadar akan pertanyaannya tersebut dengan nada meledek Juminten. ”Wo… aku sedang banyak masalah. Jangan ledek aku lagi !Huh !!!!”, ucap Juminten kesal.
    Tidak apa-apa kau cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantu. Itupun kalau kamu mau cerita!, maaf sebelumnya dengan pertanyaanku yang tadi”, kata Jarwo.” Sebelumnya trima kasih kamu telah membuatku tersenyum. Begini, Demang kemarin menagih hutang dan sewa rumah pada keluargaku. Kami di berikan pilihan untuk memilih menikah dengannya atau keluar dari rumah itu. Aku amat bingung bagaimana cara melunasi hutang-hutangku. Juga agar aku dan keluargaku tak meninggalkan rumah itu ?” ujar Juminten seraya menangis.
     “Mengapa engkau sudi meninggalkan rumah itu. Itu rumah dan tanah keluargamu bukan ?”, tanya Jarwo.” Memang, namun kami telah menggadaikan sertifikat tanah rumah itu!”, jawab Jum. ”Berapa hutangmu ?”, tanya Jarwo.” 5 juta Wo… aku benar-benar bingung,” Ucap Jum.

   Belum lama mereka bercakap-cakap ada ayah Juminten.

 ”Waaah, ini nak Jarwo ya? Waduuh!! sekarang sudah besar ya? yang dahulu bermain dengan Jum. Sekarang makin tampan dan sukses saja rupanya !S ampai-sampai lupa dengan desanya ternyata.”, puji ayah Jum. “Sudah, kalau begitu Jum, ayo cepat pulang. Demang berada di rumah untuk memutuskan tanggal pernikahan kalian”, kata ayah Jum. Dengan tidak rela Juminten harus meninggalkan Jarwo. Kekecewaan muncul pada Jarwo saat ini mendengar ayah Jum berkata pada Juminten. Tapi, pada lubuk hatinya, ia seperti tak percaya atas semuanya. Karena sebelum pergi taatapan Jum tajam, raut mukanya pun menampakkan bahwa dia sedih, juga seperti sedang memendam penderitaan yang amat mendalam. ”Aku harus tahu semuanya !! harus !”, ujar Jarwo.
   Juminten dan ayahnya telah sampai rumah. Hati Jum makin miris ketika melihat di rumahnya banyak orang yang berpakaian rapi dan masing-masing dari mereka membawa nampan yang berisi buah-buahan, makanan, sandang dan baju pernikahan. Keluarlah dari rumah Demang dengan pakaian bagusnya menandakan bahwa ia orang kaya. Di ikuti para istri-istrinya. Juminten disambut gembira oleh semuanya.
    “Kemarilah calon istriku… aku telah menantimu lama sekali dari kau kecil dulu aku benar-benar menyayangimu. Kemarilah cepat !”, ucap Demang. ”Busyiiit !Dasar lelaki buaya. Kata-katanya memang maut. Namun tak akan pernah tersentuh sedikitpun hatiku karena itu..!”, jawab Jum dalam hati.
    Jum berjalan memasuki ruangan di depan rumahnya. Dimana di sanalah orang-orang berkumpul bermusyawarah. Lama sekali rapat itu… Jum menunggu dengan hati kesal dan jenuh. Akhirnya selesai juga rapatnya setelah berjam-jam menunggu. Hati Jum lega. Keputusanpun telah ditentukan pernikahan itu akan di gelar tanggal 18 April. Itu benar-benar mendadak. Aku syok berat mendengarnya. Tinggal 4 hari lagi. Demang benar-benar sudah tidak sabar untuk meminang Jum. Jum hanya dapat menjerit dalam hati. Semua keperluan disanggupi Demang. Pernikahan itu akan dibuat benar-benar megah dan mewah. Tak lama kemudian Demang beserta rombongannya itu pulang.
    Kini tinggalah Jum dan keluarganya sekarang. ”Berbahagialah ndok... ibu hanya bisa mendoakanmu “, ucap ibu Jum. Ayahnya hanya dapat mengelus putrinya. Jum masuk ke kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Sampai tak terasa ia sudah tertidur lelap. Keesokan harinya terasalah ia susah untuk membuka matanya yang terpejam itu. Matanya sembab. Bantal di bawahnyapun basah. Ibunya mengetuk pintu kamar, ”Ndooook.... ibu pergi dahulu ke sawah. Kalau lapar ibu sudah menyiapkan. Cepat bangun ndoook !”.
    Juminten hanya bisa menghela nafas panjang. Ia keluar kamar, mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia pergi menuju tempat di mana ia bertemu dengan Jarwo. Ternyata tanpa disengaja Jarwo telah berada di sana. Akhirnya mereka berdua membicarakan sesuatu. Dan selang beberapa jam kemudian mereka berdua berpisah.J um melambaikan tangan sambil menangis. ”Mengapa Jum... mengapa engkau memilih untuk menikah dengan lelaki laknat itu ! Mengapa.............?”,ujar Jarwo.  
     Sesampainya di rumah Jum masuk kamar dan menangis .
     Hari pernikahanpun  telah tiba. Amat cantik Juminten memakai gaunnya bagai seorang putri menunggu pangeran. Namun, tak sesenang hatinya. Ia merasa seperti mangsa yang akan dimakan seekor singa.
     Pernikahanpun telah usai. Juminten resmi menjadi istri Kanjeng Sepuh Joyodiningrat, Nyonya Joyodiningrat. Juminten meneteskan airmata. Namun bukan airmata bahagia melainkan airmata kesedihan.
     Hari-hari berlalu dan Jarwo belum kembali. Ia sedikit memata-matai kegiatan Jum. Ia sedih ketika melihat Jum disiksa oleh istri-istri Demang lainnya. Memang Jum hanya disiksa apabila Demang pergi ke kota saja. Jadi, tidak ada yang membelanya. Kasihan dia. Amat malang.
      Akhirnya suatu haripun tiba di mana tragedi itu terjadi. Kericuhanpun muncul. Demang menghajar  Jarwo karena Jarwo masih mencintai Jum. Semuanya bertengkar. Jum hanya bisa diam. Sampai Demang berkata, ”Pergilah kau bersama pemuda bajingan itu ! Keluar dari rumah dan kampung ini. Tak sudi aku melihatmu lagi !!!”, bentak Demang.
    Akhirnya Jum dan Jarwo pergi ke kota. Mereka hidup bahagia tanpa menoleh pada masalalu. Keluarganyapun diboyong ke kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan