Karya Andika Agung
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1
5 tahun lalu, tepatnya pada saya duduk di kelas VIII SMP, saya mengikuti study tour ke Bandung. Yang saya pikirkan saat itu adalah keindahan kota Bandung dengan berbagai tempat wisata yang telah dikenal banyak orang diseluruh Indonesia. Hari demi hari saya lalui untuk menunggu hari keberangkatan ke Kota Bandung. Hari yang ditunggu pun tiba. Saya pun mempersiapkan semua dengan hati yang berdebar-debar. Setelah semua siap, saya pun berangkat ke Kota Bandung.
Setelah menempuh parjalanan selama 15 jam dari Kota Solo, akhirnya saya dan teman-teman sampai di kota Bandung. Sesampainya di sana, saya langsung beristirahat di salah satu wisma di daerah Parahyangan. Di wisma itu saya merasa heran. Suasana dan kondisi di wisma tersebut jauh dari kata nyaman. Arif, salah satu teman saya mengatakan,” suasana dan kondisi wismanya memang parah, seperti nama daerahnya yaitu Parahyangan.”. Lalu saya pun menjawab,” ya betul. Suasananya tidak mendukung untuk beristirahat. Tapi apa boleh buat, semua ini harus kita terima.”. Setelah istirahat, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Gedung Asia Afrika atau yang sering disebut dengan Gedung Merdeka. Di sana saya mendapat banyak pengetahuan tentang Gedung Merdeka. Para petugas keamanan di Gedung Merdeka sebenarnya tidak memperbolehkan pengunjung mengabadikan gambar lewat kamera. Tetapi, saya melanggar peraturan itu. Saya mengambil foto mesin ketik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi. Namun aksi saya tersebut dipergoki oleh petugas keamanan. Salah satu petugas mengatakan,” dik, jangan mengambil foto di gedung ini. Bila sekali lagi saya memergoki adik mengambil foto lagi, adik akan berurusan dengan saya!”. Saya hanya menjawab,” Maaf pak. (sambil tertawa dan setengah lari)”. Setelah mendapat banyak pengetahuan di Gedung merdeka, saya melanjutkan perjalanan ke kampus ITB. Yang saya pikirkan sejenak saat itu adalah kemegahan kampus ITB yang menjadi impian banyak siswa di Indonesia. Sesampainya di ITB, saya memasuki gedung Sabuga. Hati yang berdebar-debar mengiringiku masuk ke gedung Sabuga. Disana banyak penemuan mahasiswa ITB yang menakjubkan. Saya pun berkesempatan menikmati salah satu penemuan mahasiswa ITB yaitu bioskop kubah. Di dalam bioskop kubah itu, saya terpukau dengan layar bioskop yang berbentuk seperti kubah. Saat diputarka film, Luky, salah satu temanku mengatakan,” leherku pegal. Daritadi kepalaku berputar-putar mengikuti layar bioskop yang seperti bioskop.’’. “ Sama saja Luk, aku juga begitu.” kataku. Setelah puas mengelilingi kampus ITB, saya melanjutkan perjalanan ke Danau Situpatengang dan kebun strawbery yang terletak di daerah Lembang. Udara yang sejuk menyambutku ketika saya tiba disana. Di sana tidak hanya sekolah saya saja yang mengunjungi danau tersebut, tetapi sekolah dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bayu, teman saya, mengatakan,” sudah duduk disitu saja. Tidak usah kemana-mana. Kaki kamu kan sakit (sambil tertawa).”. Saya hanya menjawab,” Iya, saya disini saja memandangi pemandangan Danau ini dari sini. Bila nanti saya berjalan jauh, kaki saya tambah sakit.”. Danau Situpatengang yang indah dan manisnya buah strawbery benar-benar membuat pikiran tenang dan hati senang. Semua kegiatan di Bandung ditutup dengan berbelanja di Cihampelas Walk (Ciwalk) dan Cibaduyut. Di Cihampelas banyak sekali distro-distro yang menjual pakaian yang lagi mode saat ini. Saya pun tanya kepada salah satu pelayan di toko tersebut,” Berapa harga boxernya mas?”. Orang itu menjawab,” Delapan puluh ribu dik.”. “Astaghfirulah!. Ya sudah terima kasih mas.”kataku. Setelah berputar-putar di Cihampelas, saya dan teman-teman saya pergi ke Cibaduyut. Di sana banyak toko yang menjual aneka sepatu, tas, boneka, dan samurai. Di Cibaduyut, saya mencoba membandingkan harga boxer di Cihampelas dan di Cibaduyut. Saya pun bertanya kepada salah satu penjual boxer,” Berapa harga boxernya mas?”. Penjual itu menjawab,” sepuluh ribu dik.”. Saya pun heran dengan perbandingan harga yang mencolok antara harga di Cihampelas dan harga di Cibaduyut. “ ya sudah mas, terimakasih”. Penjual itu bertanya,’tidak jadi beli dik?”. “tidak mas. Saya hanya tanya-tanya saja (sambil tertawa dan pergi setengah lari)”. Karena di Kota Bandung banyak menjual pakaian-pakaian yang lagi nge-trend pada zaman ini, banyak orang yang menyebut Kota Bandung dengan sebutan Paris van Java. Selain itu, Kota bandung juga terkenal karena keindahan dan kemegahannya. Usai sudah acara study tour ke Kota Bandung. Banyak yang saya dapatkan dari acara study tour ke Kota Bandung. Perjalanan ke Kota Bandung ini tidak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar