Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Senin, 05 Desember 2011

RAMADHAN; PERSIAPAN MUDIK KE KAMPUNG ABADI

Oleh A.A.I. Al Akhyar
Staf Ribet Nulis


“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kelak di dalamnya dan itulah sebaik-baiknya pahala orang-orang yang beramal”. (QS. Ali-Imron; 135-136).


Sudah saatnya kita sadar dan menyadari kalau umur kita semakin bertambah, dari Ramadhan ke Ramadhan menandakan bahwa kehidupan di dunia ini semakin cepat bertambah dari satu tahun ke tahun berikutnya. Kita tidak merasakan keberadaan Ramadhan tahun lalu, namun kini sudah tiba Ramadhan lagi. Kita menyadari kalau umur kita sudah bertambah manakala bulan Ramadhan lagi sudah tiba. Akankah kita bisa menikmati dunia ini selagi masih hidup untuk beribadah karena Allah?.
Keindahan dunia sangatlah berharga bagi mereka yang memiliki iman dan taqwa sebagai pegangan hidupnya. Untuk itu kita sebagai makhluk Allah Swt., yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, dapat mempersiapkan diri sebelum mudik ke kampung keabadian, selayaknya mampu menuangkan tetesan kesejukkan kebaikkan di muka bumi ini. Dunia memang mempunyai dua sisi, pertama bisa menjadi tempat untuk menuangkan beribadahan, amal sholeh dan perbuatan baik karena Allah, dilain sisi di dunia ini bisa juga sebagai tempat maksiat. Dan semoga kita termasuk dalam golongan yang pertama. Kesempatan kali ini tahun 1431 H kita tidak menyadari kalau Ramadhan akan meninggalkan kita, namun kita masih belum sepenuhnya beramal karena Allah, sebab kedengkian, ria dan takabur dalam bulan Ramadhan masih kita perbuat tanpa sadar.
Bulan Ramadhan bagi umat Islam merupakan bulan mulia, dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT., sepantasnya kita dapat berbuat baik pada setiap makhluk. Bulan suci Ramadhan merupakan landasan pacu awal kita untuk melangkah menuju kebaikkan. Berbagai ritual ibadah akan kita laksanakan, mulai dari ibadah sunnah hingga ibadah wajib akan mewarnai hari-hari pada bulan suci umat Islam ini.
Masjid, mushola, bahkan rumah-rumah maupun lembaga-lembaga pendidikan akan terasa nuansa Islaminya, semoga suasana tersebut akan terus terasa setelah Ramadhan meninggalkan kita. Kegiatan demi kegiatan akan menghiasi selama bulan Ramadhan tiba. Tayangan televisi akan tebar pesona dengan film-film yang bernuansa Islami, berbagai kuis-kuis yang menggiurkan hadiahnya pun juga ikut menyemarakan. Namun disisi yang lain tayangan TV mengenai kupasan-kupasan tafsir Al Qur’an maupun hadist menjadikan selingan tersendiri, itulah fenomena pada bulan Ramadhan.
Itulah sekilas warna-warni bulan suci umat Islam (Ramadhan), sehingga manusia (umat Islam) harus memproduksi acaranya sendiri sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah. Benarlah Allah SWT., berfirman; ”Janganlah kamu menjadi orang-orang yang melupakan Allah, kemudian Allah menyebabkan mereka lupa pada diri mereka sendiri” (QS. 9:67). Jangan sampai kita sebagai manusia melupakan Allah dan juga melupakan kemanusiaan kita sendiri. Sebab Allah sudah melihat hati kita yang sudah terang maupun masih gelap karena maksiat. ”Berbahagialah orang yang mencusikan dirinya dan mengingat nama Tuhannya serta melakukan sholat” (QS. 87 : 47).
Beberapa hari lagi kita akan merayakan kemenangan suci bagi mereka yang sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ada yang bersedih karena Ramadhan telah usai, sebab bagi mereka bulan Ramadhan merupakan bulan penuh hikmah, berkah dan memantapkan ketaqwaan kepada Allah Swt., ada juga yang bergembira karena akan merayakan lebaran dan bisa berkunjung ke sanak keluarga (baca; mudik). Bagi para pedagang, bulan Ramadhan merupakan berkah untuk meraup keuntungan. Itulah sekilas gambaran pada bulan Ramadhan kali ini. Tidak ada lagi berbuka puasa bersama di warung, di depot, di restauran maupun di berbuka bersama di rumah. Terasa rindu akan kehadiran bulan Ramadhan lagi.


Mudik Ke Kampung
Di tengah-tengah kebahagiaan umat manusia menyambut hadirnya bulan penuh hikmah, bulan suci yang sangat dirindukan oleh para kekasih Allah, bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari yang mustajab (Nuzulul Qur’an dan Malam Laialatul Qodar), yaitu bulan suci Ramadhan. Pada tahun 2010 kali ini banyak sekali perisiwa-peristiwa yang terucap dalam wadah bencana telah melanda bangsa Indonesia. Berbagai bencana alam mulai gempa bumi, banjir, musibah tanah longsor, jatuhnya pesawat terbang, tenggelamnya kapal laut hingga meninggalnya para intelektual Islam bangsa dan masih banyak lainnya fenomena-fenomena pristiwa kolosal yang menghiasi bangsa Indonesia.
Dari situlah, kita harus sadar betapa pentingnya sejak dini kita untuk bisa berbuat baik yang ikhlas serta istiqomah. Mereka para korban telah mudik ke kampung abadi terlebih dahulu, siapa tahu setelah ini saya, anda bahkan orang yang anda cintai?. Allah yang Maha Tahu segala apa yang ada di hati manusia dan isi dunia ini. Tahun ini kita bisa merasakan indah serta nikmatnya Ramadhan, namun belum tentu kita bisa menikmati indahnya Ramadhan pada tahun depan, ”Semoga Allah memberikan umur panjang pada kita semua, sehingga bisa mengikuti Ramadhan-Ramadhan pada tahun-tahun berikutnya”.
Ketika pulang dari Shiffin, Sayyidina Ali k.w. melewati pekuburan di pinggiran Kota Kufah. Beliau berkata seraya menghadap ke arah pekuburan. ”Wahai penghuni kampung yang sunyi, Wahai penduduk yang tinggal di tempat yang sepi, Wahai orang yang berdiam di kubur yang gelap, Wahai orang yang berbaring didalam tanah, yang terasing, yang sendirian, yang kesepian. Kalian telah mendahului kami. Kami Insya Allah akan menyusul kalian. Rumah kalian sudah ditinggali orang lain, Istri atau suami kalian sudah menikah lagi, harta kalian sudah dibagi-bagikan. Inilah kabar dari kami. Bagaimana kabar dari kalian?”.
Merenung, baru kita sadari bahwa perbekalan kita untuk mudik ke kampung abadi untuk segera dipersiapkan, namun apa yang harus kita persiapkan?. Maka dari itulah bulan yang penuh rahmat ini (baca: bulan Ramadhan) kita isi dengan memperbanyak amal kebaikkan sesama manusia dan tentunya amal yang diridhoi Allah SWT. Santuni anak yatim maupun piatu, santuni fakir miskin, bersedekah dengan ikhlas, memperbanyak amalan serta pergunakan waktu hanya untuk cinta kita, kekasih kita, yaitu Allah Semesta Alam.
Aku berjalan menuju rumah-Mu serta menciumi lantai rumah-Mu
Yang membuat ku tergila-gilaku pada-Mu bukan megahnya bangunan rumah-Mu
Yang membuat mabuk kepayang diriku adalah penghuni rumah itu.
Aku ingin bercinta, berkasih sayang dan juga
Ingin mendapatkan ridhomu selagi aku hidup sebelum mudik ke kampung abadi-MU
Manusia hanyalah sebuah makhluk yang kesepian, tanpa adanya kekasih tentunya tidak bisa mempunyai kehidupan yang indah lagi nikmat, akankah diriku bisa selalu merindu pada-MU wahai kasihku. Pada waktu mudik nanti siapakah yang menjemput kita? Makhluk yang berwajah indah mempesona lagi menyejukkan atau makhluk Allah yang berwajah suram lagi menakutkan. Jawabnya adalah tergantung amal kebaikkan kita semasa masih hidup di dunia.
Sebagai penutup tulisan ini, dan juga senyampang kita masih bernafas, sepanjang kehidupan orang-orang yang kita cintai masih ada didekat kita dan orang-orang yang mungkin secara sengaja atau tidak sengaja pernah kita dzolimi dengan perbuatan maupun perkataan atau bahkan dari hati kita. Marilah keberadaan bulan suci Ramadhan tahun ini kita isi dengan saling membahagiaankan serta menghilangkan rasa dengki maupun takabur. Saling bersilaturrohim untuk saling mengundang acara berbuka puasa bersama, hilangkan rasa status sosial yang berbeda, yang ada hanyalah kita sama di mata Allah, sebab Allah adalah segala pemberi kenikmatan di dunia ini.
Meskipun Ramadhan akan pergi, namun jangan sampai amal kebaikkan kita setelah Ramadhan juga ikut pergi. Hanya Allah yang segala membolak-balikkan hati manusia.
Itulah dunia, hanya merupakan bagian terkecil dari ciptaan-NYA yang lain.
Orang yang terlena dengan dunia akan sangat terhina amat sangat.
Sedangkan orang yang sudah bercinta dan berkasih dengan Allah
Dia akan berpaling dari dunia ketika dunia menawarkan keindahan, kenikmatan,
Walapun berupa perempuan cantik nan seksi.
Kemuliaan seseorang tercermin dengan memiliki keyakinan iman tinggi,
Dan barang siapa yang tidak memiliki keyakinan
maka tidak bisa memberi manfa’at pada orang lain.
Aku rindu pada kekasihku, I Love You Full Allah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan