Karya Tiwi
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1
Dengan napas terengah-engah dan muka merah padam karena sengatan matahari, seorang petani di desa terpencil yang jauh dari keramaian kota berlari-lari meninggalkan ladangya. Ia pergi menuju ke rumah tetangganya. Beberapa orang penduduk setempat yang berpapasan dengannya manjadi heran. Karena hendak mengetahui apa yang terjadi, mereka pun mengikuti dari belakang.
“Celaka, sungguh celaka! Sapi itu benar-benar gila!” gerutu John, petani tadi, sambil mengepalkan tinjunya. “Tanpa setahuku, sapiku masuk kebun sayurmu. Singkatnya, kebun kubismu hancur!”
“Apa!” seru George, petani tetangganya dengan terkejut. “Sapimu merusak kebun kubisku sampai hancur?”
“Begitulah,” kata John sambil menyeka keringatnya yang membasahi mukanya yang nampak sedih dan cemas. “Binatang itu memang keras kepala. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Apa yang harus kaulakukan?” teriak George dengan nada tinggi. Kelihatannya ia marah sekali. “Kau seorang tetangga yang jujur, bukan?”
“Benar. Kau sudah mengenalku. Apabila aku tidak jujur apa aku berlari-lari melaporkan peristiwa ini kepadamu?”
George berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Nah, Saudara-Saudara, kalian semua menjadi saksi!”. Lalu, ia menoleh kepada John, serta katanya, “Baik, karena sapimu telah merusak kebun sayurku, kau harus mengganti rugi sebesar harga kubis itu bila tiba masanya memetik. Bukanlah itu sangat adil?”
Orang-orang yang berkerumun itu mengangguk. “Ya, tuntutan itu cukup adil” seru mereka hampir bersamaan.
“Hai, mengapa harus aku yang membayar ganti rugi?” tanya John seakan-akan menjadi keheran.
“Jangan berlagak pilon?” bentak George garang
“Bukan aku yang merusak kebunmu!”
“Ya, memang bukan kau! Tapi, sapimu itu merusaknya. Jadi, kau harus memberi ganti rugi kepadaku. Sekarang juga!”
“Ah, apakah.... apakah aku berkata sapi telah merusak kebun sayurmu?” Sambil bertolak pinggang, George berkata kepada orang-orang yang mengerumuninya, “Bagaimana, saudara-Saudara, tadi aku berkata begitu bukan?”
“Ya benar. Kau berkata begitu tadi!” sahu beberapa orang dengan serempak yang ditujukan kepada John.
John menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendecak beberapa kali, lalu berkata, “Kalu begitu, pasti kau telah salah berkata. Yang benar sap;i tetanggaku ini masuk ke kebunku dan merusak semua tanaman sayuranku”.
“Hah?!” seru orang-orang tercengang. “Jadi, kebalikannya?”
“Benar!” kata John sambil menatap muka tetangganya yang tiba-ti ba menjadi pucat pasi.
“Wah, ini suatu perkara pelik,” kata George kemudian. “Oleh karena itu, marilah kita masuk rumah terlebih dahulu. Sebaiknya persoalan ini kita selesaikan secara kekeluargaan.”
“Kukira tidak ada lagi yang perlu diselesaikan,” kata petani John yang cerdik.
“Ketika kau mengira sapiku yang merusak tanamanmu, kau telah menetapkan besarnya ganti rugi dan menuntut untuk membayarnya sekarang juga. Sekarang, pastilah kau rela memberikan ganti rugi sebesar yang telah kau tetapkan tadi, bukan? Kebetulah luas kebun kita sama. Dan bayarnya sekarang juga!”
“Apakah aku telah berkata begitu?” kata George seolah bertanya kepada diri sendiri.
“Dan semua orang ini menjadi saksi?”
“Ya, kami semua mendengar perkataanmu. Tuntutanmu begitu jelas,” kata beberapa penonton.
“Saudaraku yang baik, kau terburu nafsu. Berilah aku waktu untuk berpikir,” kata George.
“Apalagi yang dipikirkan? Secepat kau menuntutku, secepat itu pula kau harus membayar ganti rugi kepadaku,” jawab John.
“Ya, kau harus memberi ganti rugi kepadanya sekarang ini juga, sesuai dan sebesar yang kau ucapkan sendiri tadi,” teriak penonton hampir secara bersamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar