Oleh Illa KartilaTugas utama kaum ibu tidak semata-mata melahirkan bayi, merawat, mengasuh dan membesarkan anak sambil menjadi istri yang mengabdi pada suami dengan motto: swarga nunut, neraka katut, perlahan tapi pasti mulai berubah seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi.
Memang benar ibu-ibu masih mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, tetapi banyak di antara mereka juga ingin lebih mengembangkan diri, bakat, minat dan hobi yang tidak hanya sekedar untuk mengisi waktu, tetapi juga menambah ilmu dan penghasilan keluarga.
Simak cerita Dini Shanti, salah seorang ibu rumah tangga -mantan karyawati- yang kemudian berhasil membangun usaha yang menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai masa depan kedua anaknya, dengan memanfaatkan teknologi maju.
"Dulu, saya musti berpanas-panasan naik angkot ke kantor. Dulu, saya pernah kehilangan hampir segalanya, sampai kasur pun tidak punya. Dulu, saya sampai punya hutang sana sini demi menyediakan makanan di meja," katanya mengenang masa lalunya.
"Sekarang saya bisa tersenyum simpul mengenang sisi keras kehidupan saya di masa lampau. Itu berkat kemajuan teknologi. Jika dulu saya pakai internet hanya untuk main game saja, sekarang, internet menjadi sumber penghasilan saya," ujar Dini.
Tahun 1998 ketika dia mulai merintis ’karir’ di internet, dia mengaku tidak memiliki guru yang bisa mengajari dan membimbingnya. "Saya musti mempelajari semuanya seorang diri, ditemani om Yahoo dan om Google tentunya. Tidak sedikit waktu dan tenaga yang saya habiskan untuk belajar, hingga saya mencapai posisi seperti sekarang."
Tak kalah serunya kisah yang dituturkan Lizsa Anggraeny. Ibu rumah tangga adalah profesi yang digelutinya sejak berhenti kerja dari sebuah perusahaan. "Saya menyebutnya profesi karena pekerjaan rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya," katanya.
Jika di perusahaan dia hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja, ternyata di rumah tugasnya banyak karena dia wajib berperan multifumgsi sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus mampu menguasai semua bidang.
Jadilah rumah tangga dia ibaratkan sebuah kantor, untuk rencana harian misalnya dalam buku agenda dia menulis: Membuat purchase order, meeting supplier, incoming inspection dan lainnya. Agenda ini sesungguhnya jadwal harian rumah tangga.
"Saya ibaratkan belanja kebutuhan sehari-hari dengan purchase order; acara pergi ke pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier; sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan rumah tangga," ujarnya.
Bukannya tanpa kendala, katanya, karena pertama kali berhenti bekerja dan menjalani pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui. Selama ini dalam benaknya telah terpatri pikiran bahwa menjadi wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga.
"Ternyata, setelah benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya," tutur Lizsa.
Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan `perangkat kasar’ berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya untuk mencuci, menyetrika, bebenah rumah, tetapi juga `perangkat lunak’ - kelihaian otak guna mengatur keuangan, mengolah makanan, meredam emosi.
Juga beberapa perangkat lunak lainnya yang berhubungan dengan naluri keibuan berupa kelembutan, kesabaran untuk mengayomi rumah tangga. "Terkadang ibu rumah tangga pun harus siap menjadi pengawal (bodyguard) yang dapat mendeteksi keadaan rumah tangga agar selalu adem, ayem dan tentrem."
Tidak menghambat potensi
Belum lagi waktu kerja yang menurut Lizsa mengharuskan seorang ibu siap sedia selama 24 jam. Ini memerlukan ketahanan jiwa dan fisik yang kuat.
"Jika dalam perusahaan saya bisa mengambil cuti, tidak begitu dalam rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga saya tidak bisa begitu saja ngambil cuti, mengundurkan diri atau meminta pensiun dini karena cape ataupun tidak cocok dengan pekerjaan. Di sinilah karir saya ditempa. Saya adalah fasilator bagi berjalannya managemen rumah tangga," kata Lizsa.
Dia juga mengakui, menjadi ibu rumah tangga ternyata tidak menghambat potensinya. "Justru saya jadi memiliki waktu lebih fleksible dalam mengembangkan potensi untuk meraih prestasi. Di antaranya saya lulus Nihongo Nouryoku Shiken (tes kemampuan Bahasa Jepang) level satu setelah berusaha keras belajar di antara waktu luang yang ada."
Dia juga dapat mengembangkan hobi menulis. Siapa sangka setelah menjadi ibu rumah tangga, dia justru dipercaya menjadi ketua di salah satu forum kepenulisan.
Profesi ibu rumah tangga baginya tidak bisa digantikan oleh siapapun selain diri mereka sendiri. "Tidak salah jika kini, saya begitu bangga dengan profesi ini. Bila ada yang bertanya apa pekerjaan anda? Tanpa ragu lagi akan keluar jawaban, Saya
adalah ibu rumah tangga."
Sementara itu teknologi informasi dan telekomunikasi tak dipungkiri lagi sangat berperan dalam pemberdayaan wanita/ibu misalnya dalam pemanfaatan internet untuk sesuatu yang positif - mengembangkan usaha atau bisnis sesuai dengan minat dan hobi sesuai kapasitas dan kemampuannya yang bisa dilakukan dari rumah.
Ibu-ibu jangan hanya dicap sebagai kaum konsumtif dan hanya memanfaatkan teknologi terbaru untuk kepentingan gaya hidup. Memburu handphone atau gadget terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman, sebatas mengupdate status sosial media seperti Fecebook atau nge-tweet agar tetap dianggap eksis.
Gunakan untuk sesuatu yang produktif, jadilah produsen. Jika punya hobi menulis, ibu-ibu dapat memanfaatkannya dengan membuat blog atau langsung menulis di blog media. Semuanya mudah dan gratis tidak perlu memikirkan pembayaran ’hosting’ dan ’bandwith’.
Menulis juga bisa apa saja, mulai dari resep memasak, cerita ringan sampai pengalaman saat berkunjung ke suatu tempat. Akses untuk terjun ke dunia maya ini semakin mudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Lihat saja, pengguna internet di Indonesia terus meningkat dengan cepat dari tahun ke tahun.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, jumlahnya sudah mencapai 45 juta, padahal pada tahun 1999, jumlah pengguna internet di Tanah Air baru ada di angka satu juta orang.
Teknologi informasi dan telekomunikasi adalah jembatan untuk memberdayakan kaum wanita, dari ibu-ibu tradisional yang hanya memasak, mengasuh anak dan melayani suami, menjadi wanita yang handal, cerdas, berpengetahuan luas dan bahkan memiliki penghasilan cukup banyak, tanpa harus meninggalkan anak-anak di rumah.
Sumber :
ANT
http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/10100263/Wajah.Ibu.di.Era.Teknologi.Maju
Tidak ada komentar:
Posting Komentar