Karya Risalatul
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1
Suara kicauan burung burung di pagi hari terdengar sangat merdu menyambut pagi yang cerah nan indah ini.Terdengar samar –samar suara dengkuran dari kamar di ujung lorong rumah kecil yang rapi.
Tok..tok..tok..
Seorang ibu berdiri di depan pintu sambil membangunkan anaknya yang masih tertidur lelap.
“Nana,,bangun,sudah siang sayang.”
“Hemmmm…Iya ma,sebentar lagi.” Kata anak itu manja.
“Kamu itu,,ini sudah siang.Kamu itu anak perempuan,tidak baik kalau di lihat tetangga kamu bangun jam segini.” kata ibunya memaksa.
Akhirnya Nana bangun dengan perasaan kesal.Dengan bibir monyong dia mengambil handuk kemudian pergi ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian,dia keluar dari kamar mandi.kemudian masuk ke kamar kembali.
Sesaat dia memandangi handphoneny,menunggu sms dari sang pujaan hati.
Nana seorang gadis single parents.Ayahnya meninggal ketika dia berumur 1 tahun.
Meski dia hanya single parents,tetapi dias cukup bahagia. Ibunya selalu mencukupi apa yang ia butuhkan.
“Ma,Nana pergi dulu ya?” Tanya Nana sambil memeluk ibunya yang tengah menyetrika baju.
“Mau kemana?” Tanya ibunya.
“Mau main sama kak A’an ma.Boleh yaa.” Bujuk Nana.
“Y sudah,hati-hati. Nanti jam 11.00 harus sudah nyampe rumah lagi.” Pesan ibunya.
“OK bunda sayangg.” Kata Nana sambil mencium ibunya.
A’an adalah nama kekasih Nana.Dia berumur 22 tahun.Walau terpaut jarak umur 5 tahu.Nana tidak pernah mempermasalahkan semua itu.Malah dia menganggap kalau punya pacar sudah dewasa lebih mengerti arti menghargai dan menyayangi pasangannya.
Nana sangat mencintai A’an,begitupun sebaliknya.
Mereka berdua telah mendapat restu dari orang tua masing-masing.Tetapi dari kakek A’an yang masih keturunan golongan ningrat tidak menyetujui mereka.Kakek A’an beranggapan bahwa seorang ningrat harus mempunyai istri dari golongan ningrat pula.
A’an dan Nana telah menjalin hubungan cukup lama.Sekitar 2 tahun lebih.Mereka telah sepakat akan menjalin hubungan yang serius.Mimpi mereka berdua adalah ingin menjalin hubungan selamanya dan menciptakan keluarga tentram.sakinah mawaddah wa rohmah.
Pada suatu ketika.
Kringggg…kringgg…
Handphone Nana berbunyi.
Ternyata sms dari A’an. Dalam sms itu berbunyi.
Sayang…
Aku ingin bertemu kamu secepatnya.
ini penting….
Nanti jam 4 sore tolong tunggu aku di tempat biasa kita ketemu…
Tepat pukul 4,Nana tengah duduk di kursi sebuah café tempat ia biasa bertemu dengan kekasihnya.
Dengan hati gelisah penuh tanda tanya,dia meminum segelas softdrink.
Tak lama kemudian A’an datang dengan menundukkan kepala.
“Ada apa kakak menyuruh aku kesini?”Tanya Nana khawatir terjadi sesuatu.
“Gini Na,sebelumnya aku mau minta maaf..Sejujurnya aku tak mau kamu mengetahui hal ini.aku takut kamu akan kecewa,aku tak sanggup melihat kamu terluka.”kata A’an panjang lebar.
“To the pint aja kak.Ada apa?”Tanya Nana sedikit memaksa.
“Maafkan aku na,aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.tadi malam terjadi pertengkaran hebat antara kedua orang tuaku dengan kakek ku.Keputusannya kita tidak boleh bersama.dan kakek akan tetap berusaha memisahkan kita.Percayalah.suatu saat nanti kita akan di persatukan kembali.”kata Aan sambil menitikkan air mata.
Tak terasa air mataku menetes membanjiri wajahku.sesaat kemudian aku berlari pulang.
Nana berbaring di ranjang,terisak penuh duka yang mendalam.
Ibunya datang kemudian menasehati Nana supaya tidak larut dalam kesedihan.
Beberapa saat yang lalu,Nana serasa bagai di sambar petir di teriknya matahari siang.
Hatinya terpukul mendengar tuturan dari A’an itu..
Ingin rasanya dia membabi buta.Tapi dia kasihan terhadap ibunya.
A’an yang dulu dia banggakan,kini telah pergi dari kehidupannya.bukan karena bosan melainkan demi kebaikan hubungan kekeluargaan mereka.
Heri demi hari di lewati tanpa A’an.Nana sekarang menjalani hidup tanpa A’an di sampingnya.
Padahal dulu setiap saat A’an selalu ada.
Pada suatu hari datanglah sepucuk surat undangan.
Di depan tertulis A&N..
Secepat kilat Nana membukanya,ternyata seperti yang ia duga,,
A’an menikah.Tambahlah sakit yang di derita oleh Nana.
Tibalah waktu pernikahan A’an.
Nana datang dengan perasa’an sedih yang sangat mendalam.menundukkan kepala.tak berani menatap kearah muka A’an..
Begitupun sebaliknya.
Senja di sore itu menambah haru suasana hati Nana.
Mentari yang menepi seakan menjadi saksi pernikahan A’an di atas penderita’an Nana.
Sakit di rasa A’an juga lebih berat. Dia makin merasa bersalah karena telah memilih mengikuti permintaan kakeknya.terlebih jika dia teringat sa’at sa’at yang di laluinya bersama Nana.
Semoga suatu saat nanti Nana mendapat yang terbaik dari A’an.
Senja di ufuk barat
Terlihat indah nan anggun
Di kala sepi menghujam hati
Kaulah obat dari segala rasa
Keindahan yang terpancar
Seakan menghibur hati yang muram
Menjadikannya lepaskan sebuah senyuman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar