Kata Pesan

SELAMAT DATANG DI DUNIA CERPEN KARYA SISWA MAN TULUNGAGUNG 1

Kamis, 08 Desember 2011

Doa untuk Ayah

Karya Luluk A.N.
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1



Mentari pagi kini tak lagi bersahabat,awan gelap terus menyelimuti langit biru.Tak tampak cahaya terang mentari yang menjadi harapan semua makhluk.Semua orang tengah sibuk dengan urusannya meski hari Minggu ,namun aktifitas tak kan ada habisnya.Terbayang olehku saat,sesosok tubuh yang tergolek lemah tak berdaya .Semua peralatan dokter yang terpasang di tubuhnya kini telah terlepas dari tubuhnya .Bukan karena kondisinya tapi karena keinginan teman hidupnya,hingga saat ini yang senantiasa menemaninya tengah pasrah dengan keadaannya.Dan telah menyerahkan semuanya pada Allah SWT.
Hanya sebuah do’a  yang terus terucap dari bibirnya.Semua sanak saudaranya telah berdatangan dengan bergantian untuk  sekedar melihat keadaannya dan mendo’akannya agar segera bangun dari tidurnya .Seminggu sudah  beliau terbaring lemah tak berdaya tanpa  sesuap nasi masuk ke tubuhnya ,melainkan tetes demi tetes infuse yang terus masuk ke tubuhnya.Namun kini melihat  .keadaan beliau yang semakin parah istrinya beserta keluarganya membawa beliau pulang.
Awan hitam kini meneteskan  butiran - butiran air yang lembut dengan perlahan.Seakan mengerti suasana yang tengah penuh dengan airmata dan do’a yang tak terhenti.Bisikan lafadz Allah kini terus terbisikkan di telinganya.Kulihat suasana  yang penuh kesedihan tengah menyelimuti  keluarga kecil yang penuh keceriaan ini.Seorang anak kecil hanya bisa menangis melihat ayahnya yang tengah berbaring tak berdaya .Sambil terus mendekati sang ibu dan bertanya,”Bu,ayah kenapa???Kenapa ayah tidak bangun???”.

Dalam isak tangisnya, ia terus bertanya pada ibunya yang tak mampu  lagi berkata –kata.Hanya cucuran airmata ibunya yang menjawab pertanyaannya.Hingga akhirnya ,malaikat maut datang meyambut  sang ayah.Kini airmata ibu dan anak kecil itu semakin mengalir dengan deras begitu pula dengan seluruh keluarganya.
Saat semua keluarganya tengah berkumpul, tanpa sebuah pesan sang  ayah meninggalkan mereka.Suasana keluarganya kini tengah dilanda duka .Berita kepergian sang ayah kian menyebar dengan cepat orang –orang kian berdatangan untuk ta’ziahSi kecil Ara , kini hanya bisa menangis .
Proses pemakamannya berlangsung begitu cepat,suasana langit yang semula mendung berubah menjadi cerah.Sungguh ini bukanlah suatu kebetulan ,namun ini  sebuah keajaiban ,mentari yang awalnya bersembunyi kini menampakkan wajahnya .Semula rintik-rintik hujan yang terus menyambut dunia,perlahan hilang entah kemana.
Si kecil ,Ara masih larut dalam kesedihannya .Entah betapa sedihnya Ara,saat harus kehilangan orang yang sangat  disayanginya,orang yang senantiasa menjaga dan membimbingnya .Saat Ayahnya pergi untuk selamanya ,yang takkan mungkin  bisa berjumpa lagi di dunia.Sungguh hanya tangis yang menjawabnya.
Namun ,si kecil  lambat laun bangun dari rasa keterpurukannya .Ia sadar bahwa ia harus menjadi orang yang kuat seperti sang ayah. Ayah yang mengajarkannya sabar dalam setiap kebaikan dan kuat berpendirian.Hingga ia tumbuh menjadi seorang remaja.Ia berubah menjadi seorang gadis ceria .Meski kadang masih kulihat kesedihan diwajahnya saat teringat sang ayah.Saat menatap foto keluarganya hanya derai airmata yang terus membasahi pipinya .
Aku mungkin tak mampu mengobati rasa duka yang masih menyelimutinya . Karena ,mungkin kesedihan yang aku rasakan tidaklah sama dengan apa yang Ara rasakan .Rasa sayang pada ayahnya dan ikatan batin antar keduanya yang luar biasa.Sungguh hanya kekagumanlah yang bisa kukatakan padanya.Ketabahannya  dalam menghadapi lika-liku kehidupannya tanpa seorang imam di keluarganya.
Saat bulan penuh berkah mempertemukanku dengannya ,kulihat  berdo’a dengan khusyu’ di pemakaman ayahnya.Sungguh tak ku duga ia yang dulunya keras kepala kini telah berubah.Ara yang selalu menentang kedua orang tuanya kini berubah menjadi si penurut.Masih teringat olehku saat ayahnya memarahinya karena kenakalan Ara yang suka berkelahi .
“Ra,sampean ki jangan nakal tho,masa’ anak perempuan kok suka berkelahi!”.
“Ara itu mboten nakal ,Yah!! Tapi anak itu yang mulai duluan jadi ya Ara balas.Salah siapa coba,Yah??.Salah anak itu kan!!”.
“Ara ,Ara sampean itu nggak pareng mikir kayak gitu!!!Nah, karena sampean salah sampean harus dihukum biar kapok dan nggak nakal lagi. Sebagai hukumannya  Ara harus membersihkan kamar mandi sampai bersih.Tidak boleh mengeluh atau minta bantuan ibu,tapi harus sampean sendiri, kalau membantah lagi hukumannya ayah tambah membersihkan kandang ayam!!!!”
“Ara nggak mau, Ayah!!Pokoknya Ara enggak mau Ara kan nggak salah yang salah kan anak itu,Yah!!!Ara enggak mau kalau ayah mau membersihkan kamar mandi ayah bersihkan saja sendiri .Ara nggak mau!!”,katanya dengan membentak ayahnya dan berlari sambil menangis.
Itu bukan pertama kalinya ia bertengkar dengan ayahnya,namun entahlah sudah yang keberapa kalinya Ara bertengkar dengan ayah karena ulah nakalnya.Namun,ternyata takdir berkata lain,tanpa ia sadari ternyata ayahnya usia ayahnya tak selama yang ia kira.Kecelakaan maut itu telah membuat ayahnya terbaring  lemah selama seminggu di rumah sakit dengan keadaan koma.Hingga akhirnya mautlah yang memisahkan mereka.
Peristiwa itu telah menyadarkannya , Minggu tanggal 5 Desember 2004 itu telah membawa ingatannya pada ayahnya yang akhirnya meninggalkannya.Pergi untuk selamanya dan tak kan pernah kembali lagi meski hanya satu detik saja.Hanya do’a  yang bisa ia berikan untuk ayahnya.
Di pemakaman ini kulihat ,ia menunduk dengan menengadahkan kedua tangannya dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.Hanya do’a yang teriring bersama tetesan airmatanya.Penyesalan atas semua kesalahannya ,tak mampu terbayarkan oleh apapun.Hanya do’a untuk ayahlah yang bisa ia berikan.
Tetesan air mata menyambut kepergiannya
Do’a tiada henti tertuju padanya
Kenangan yang ada kini tinggallah cerita
Kisah suka dan duka saat bersama
Kasih sayang yang tak mungkin tergantikan
Tutur bahasa tegas yang tak mungkin terlupakan
Bentakan dan nasehat yang selalu terngiang
Hukuman dan kemarahan yang tak terlupakan
            Hanya ampunan yang kuharapkan
            Hanya  ridho untuknya yang menjadi harapan
            Kekuatan menghadapi dunia 
            Dan kehidupan yang ada jauh disana
                        Maafkan aku ayah……Hanya do’a yang bisa kuberikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ingin Menulis?

Bagi siswa-siswi MANTASA GREEN yang ingin menuangkan karya tulisnya, baik cerpen, tulisan ilmiah, dan coretan hati, bisa juga kritik dan saran bisa dikirim ke email: mantasagreen@gmail.com.

Komentar Perasaan