Karya Yeni Ruqoyyatus
XII IPA 2 MAN Tulungagung 1
Malam yang sunyi ini menemani hatiku yang harap – harap cemas menanti datangnya pagi, esok aku akan mendaftar sekolah di salah satu MA negeri di kota kelahiranku. Aku mencoba untuk memejamkan mata hingga beberapa saat aku terlelap. Pagi hari yang cerah telah tiba, aku telah siap dengan seragam khas MTsku, didepan rumah kedua temanku telah datang.
Dengan segera aku minta do’a restu pada kedua orang tuaku dan berpamitan. Sesampainya di tempat pendaftaran kami mengantri sebentar lalu aku dan teman – temanku maju ke meja pendaftaran, setelah itu kami dites tentang keagamaan, rasanya tak sulit bagi kami menjawab soal – soalnya karena kami dulu bersekolah di MTs.
Beberapa saat kemudian terdengar suara, “ pengumuman penerimaan siswa baru ditempel pada jendela ruang guru”. Aku dan teman – teman bergegas, “diterima” kami bersorak bersama. “Alhamdulillah….” Jeritku dalam hati, aku dan teman – teman pulang dengan hati gembira.
Hari – hari selanjutnya aku mengikuti masa orientasi,dan tibalah hari pembagian kelas, aku mencari letak kelasku, karena datang paling akhir aku mendapat tempat paling belakang dengan teman yang kebetulan aku kenal. Hari – hari pertama disekolah baru aku berkenalan dengan teman – teman sekelas. Hingga aku akrab dengan mereka semua, mereka ramah denganku, kecuali seorang cowok, namanya said. Sebenarnya dalam hati kecil, aku ingin sekali bisa akrab dengannya, karena ia sangat konyol dan humoris.
Tapi aku gengsi, biarkan dia dulu yang mendekatiku.
Aku mulai berfikir apakah dia membenciku, padahal dengan teman – teman yang lain dia sangat akrab, apa dia membenciku atau apa???. Ah, aku tak mau ambil pusing, masih banyak teman yang lain.
Hari ini aku mencoba bertanya padanya, “apa hari ini ada PR ??” tanyaku basa – basi, ia menjawab dengan singkat,”tidak ada”, ia langsung melengos pergi. Mulai saat itu aku tidak pernah lagi bertanya padanya. Aku membencinya, namun hatiku menjerit ingin berteman dengannya.
Sebenarnya apa masalahnya denganku???,,,
Satu semester sudah aku lewati disekolah ini, padahal rasanya masih satu bulan. Hari ini hari pertama ujian semester, kebetulan aku dan si Said satu ruangan karena absennya dibawahku. Aku masuk keruangan, tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang memanggilku, aku cukup mengenali suaranya,” Ria,,,” aku mengarahkan wajahku kebelakang, ternyata orang yang selama ini tidak mau menyapaku. “Kamu di ruang ini juga?” katanya, “jelasnya!” jawabku dengan judes. Aku segera duduk ditempatku, ia duduk disamping bangkuku.
Dalam hatiku aku sangat senang karena ia mau menyapaku. Setelah selesai ulangan aku keluar, ia menyapaku dan kami pun ngobrol – ngobrol sebentar. Ia meminta nomer handphoneku, akupun tak segan memberikannya. Sampai dirumah hpku berbunyi, satu pesan masuk, sudah ku kira ini darinya. Aku tidak membalas pesannya. Aku pura-pura cuek. Keesokan harinya, ia menyapaku kembali. Hari demi - hari kamipun jadi lebih dekat dan sangat akrab seperti saudara.
Lama kelamaan ia mulai terbiasa curhat padaku, hingga pada hari ini, ia memanggilku. “ibu....!!!” serunya. Aku tak tau mengapa ia memanggilku begitu, akipun tak pernah menanyakannya. “Ya, ada apa? Jawabku, “aku ingin bercerita padamu tentang kesedihan hatiku yang selama ini aku pendam sendirian" pintanya, “baiklah, ayo duduk”, sambil menggeretnya duduk di bangku teras depan kelas.
“apa kamu pernah kehilangan orang yang kamu sayang ?”, “tidak”. “apa kau tahu bahwa dibalik keceriaanku selama ini aku memendam duka yang sangat dalam?”, “tidak, emang kamu kenapa?”, jawabku dengan penasan, dengan semua pertanyaan itu membuatku lebih penasaran. “apa kamu tahu bahwa orang yang sangat aku sayangi pergi meninggalkanku ?”, “apa maksudmu? Apakah kekasihmu meninggalkan mu?” tanyaku, “tidak, bahkan ini lebih dari kekasih”, “siapa dia?” kemudian ia menceritakannya padaku panjang lebar.
“ibuku, ibuku meninggal ketika aku masih kelas 6 SD, waktu itu dirumahku ada pengajian ibu – ibu, dan ibu menjadi imamnya, tiba – tiba saja ibuku pingsan dan beliau pergi meninggalkanku untuk selamanya, aku mempunyai keinginan untuk membahagiakannya, tetapi belum sampai impianku terjadi, Allah telah memanggilnya. waktu aku kelas 5, beliau membelikanku sepatu tanpa sepengetahuanku, karena aku merasa tidak cocok aku melempar sepatu itu ke lantai dan menangis, ibuku dengan sabar berkata kalau aku tak suka tak usah dipakai, besok ia akan belikan lagi yang aku suka, itu yang membuatku sampai sekarang sangat menyesal. apakah ibuku memaafkanku atau tidak? itu duka yang sangat dalam bagiku".
Ia menangis, aku hanya bisa terdiam, aku teringat ibuku sendiri yang biasanya aku marahi. Akupun ikut menangis, "sudahlah, ibumu tak akan bisa kembali ke dunia dengan kamu menangis, sekarang tugasmu adalah mendo'akan beliau semoga Allah mengampuni seluruh dosanya dan menerima amalnya". kataku terbata - bata. "amiin, terimakasih kamu mau mendengarkan ceritaku, kamu adalah teman terbaikku". katanya, "sama - sama, sebagai teman harus saling pengertiankan? ayo senyum,,,," kataku. Setelah itu aku pulang, aku terus mengingat ingat cerita said di sekolah tadi, aku merasa kasihan padanya.
Keesokan harinya, bel pulang sekolah, ia mengajakku bicara kembali, ditempat yang sama dengan kemarin. ia berkata "Ria, aku ingin mengatakan hal yang penting padamu", "apa yang ingin kau bicarakan? Eh, sebelumnya aku mau tanya, dulu kenapa sih kamu cuek bangat sama aku, kamu beci pada ku ya???" jawabku, "tidak, itu semua karena aku malu padamu, aku merasa kamu cewek yang sangat baik bagiku, aku mengidolakanmu" jawabnya."Oooo,,, begitu, tadi kamu mau cerita apa?", kataku. "Aku sangat merindukan kasih sayang dari ibu, aku merasa kamu orang yang paling mengerti diriku. Apa kamu mau menjadi ibu untuk menemani hatiku?, itupun jika kamu mau". Aku terdiam lama, aku mengerti maksudnya berkata seperti itu, aku bingung, dunia ini terasa seperti mengecil, apa yang terjadi padaku, mengapa aku begini?, kataku dalam hati.
"apa maksudmu ? Aku tak mengerti,, jawabku, "aku ingin kamu menjadi teman hatiku". kata said lirih. "aku belum tau, apakah kamu mau bemberiku kesempatan untuk berfikir?" jawabku, "baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk berfikir. Setelah itu aku pulang, aku memikirkan kata - katanya sampai aku tak bisa tidur, aku merasa kasihan padanya,ia teman baikku, tak mungkin aku menolak permintaannya, akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi permintaanya.
Setelah itu aku berusaha untuk tidur.
Pagipun tiba, aku berangkat ke sekolah dengan gugup, aku belum sanggup bertemu dengannya, sesampainya disekolah semua temanku bertanya mengapa aku kelihatan gugup, aku hanya bisa tersenyum mendengar komentar mereka padaku tanpa menjawab sepatah katapun.
bel pulang berbunyi, said menghampiriku, ia bertanya apakah aku sudah mempunyai jawaban. aku menjawab aku bersedia untuk memenuhi permintaannya,, karena esok hari minggu, ia ingin mengajakku ke suatu tempat, aku masih belum tahu ia mau mengajakku kemana, namun aku memenuhi ajakannya.
keesokan harinya, kita bertemu di sekolah, rasa penasaranku semakin menjadi, ternyata ia mengajakku ke makam ibunya, aku merasa sangat takut, aku gemetar. disana kita mendo'akan ibu said, lalu ia berkata, " ibu, disampingku ada seorang wanita yang menyayangiku sama seperti kau menyayangiku bu, akupun menyayanginya. aku ingin dia merawatku pada waktunya nanti, karena aku merindukan kasih sayangmu ibu.. Ria, apa kamu mau menjadi pendamping hidupku nanti?" (sambil menangis). Aku ikut menangis mendengar kata - katanya, dalam hati aku berdo'a, semoga aku bisa mengobati kerinduan said pada kasih sayang ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar